18
Jul
08

Tiang dan Pasak: lebih besar yang mana?

Saya sedang memperhatikan tiga teman saya. Teman pertama, sebut saja si Badu, menafkahi keluarganya dengan cara menjadi seorang pedagang kecil di sebuah pasar kecil di sebuah kota kabupaten. Bisa dibayangkan berapa penghasilannya sebulan. Teman kedua, sebut saja si Fulan, bekerja di sebuah perusahaan besar dengan level jabatan sebagai manajer menengah. Penghasilan sebulannya bisa mencapai 8 kali penghasilan si Badu.
Persamaan dari keduanya adalah sering mengeluh kepada teman saya yang ketiga, anggap saja namanya si Parto, tentang defisit keuangan keluarganya tiap bulan. Kalau melihat perbandingan penghasilan tiap bulan, sewajarnya yang mengeluh adalah si Badu, bukan si Fulan. Tetapi, mengapa keduanya mengeluh?
Begini kondisi si Badu. Dia mempunyai 4 anak. Semuanya masih sekolah atau kuliah. Kita bisa hitung kira-kira kebutuhan tiap bulannya. Beberapa tahun yang lalu, dia berhutang ke seseorang untuk memiliki tanah dan sebuah rumah sederhana. Beberapa tahun yang lalu pula, dia mengambil kredit motor bekas, karena anaknya yang besar berharap punya motor menjelang masa kuliah. Kejadian terakhir, dia menolak usulan si Parto untuk menyekolahkan anaknya yang memasuki jenjang SMP ke sekolah gratis, yang terjamin legalitas dan formalitasnya, hanya dengan alasan anaknya tidak mau kesekolah tersebut karena tidak ada temannya. Tentu saja, akhirnya dia harus memasukkan anaknya ke SMP berbayar. Makin besar pula kebutuhan keuangan bulanannya.
Kondisi si Fulan serupa tapi tak sama dengan si Badu. Dia sudah selesai mencicil rumahnya. Tapi dia berani mencicil kendaraan beroda empat, walaupun perusahaan tempatnya bekerja sudah memberikan fasilitas kendaraan beroda empat. Anak-anaknya banyak mengikuti kursus, baik kursus yang terkait dengan kesenian maupun olahraga. Hari-hari liburnya sering digunakan untuk rekreasi keluarga, baik sekadar jalan-jalan ataupun menginap di luar kota.
Apakah si Parto tidak pernah mengeluh defisit? Katanya kepada saya, istrinya sih pernah mengabarkan kalau kondisi keuangan keluarganya pas-pas an. Si Parto berpendapat, Alhamdulillah tidak defisit. Kondisi pas-pas an itu pun dengan catatan, rekening tiap anaknya sudah terisi dengan tabungan pada tiap bulannya. Itu semakin membuatnya merasa bersyukur. Mengapa bisa begitu? Apakah karena pendapatan si Parto lebih besar dari si Badu dan si Fulan?
Memang, pendapatan Parto lebih besar dari si Badu dan si Fulan. Tapi, sepertinya, bukan itu penyebab utamanya. Parto tidak punya beban cicilan kredit mobil, karena dia merasa mobil yang dipinjamkan oleh perusahaannya sudah cukup memenuhi kebutuhannya sekeluarga. Dia hanya terbebani pembayaran kursus Bahasa Inggris anak-anaknya, karena menurutnya kursus kesenian dan olahraga merupakan kebutuhan sekunder, atau malah tertsier. Dia memang memilih sekolah-sekolah berbayar untuk anak-anaknya, tapi ukuran berbayarnya masih dalam hitungan tersanggupi, bukan sekolah-sekolah berbayar yang malah menjadi beban tak tertanggung.
Jadi, tampaknya defisit bisa diminimalkan dengan cara “tahu diri” dengan kemampuan berbelanja untuk kebutuhan keluarga. Sayangnya, rasa canggung muncul di hati Parto, ketika ingin menasihati hal ini kepada si Badu dan si Fulan. Mengapa? Parto khawatir di benak kedua temannya akan muncul pendapat “ah, loe kan bisa bilang gitu karena loe punya gaji besar. Coba kalo loe kayak gw, pasti ngerasain juga kekurangan tiap bulannya”.
Parto juga punya cerita lain. Beberapa tahun yang lalu, datanglah seorang teman kepadanya meminta bantuan keuangan. Karena itu teman dekatnya, Parto pun bantu sebisanya. Tapi ketika Parto main ke rumah temannya itu, ada hal yang menurut Parto ironis. Parto melihat ada vcd player dan sebuah televisi besar. Pada tahun itu, vcd player masih terbilang barang “mewah” karena belum merakyat seperti sekarang. Nah, Parto yang dimintai bantuan saja tidak punya vcd player (karena dia anggap tidak membutuhkannya), kok sang teman yang butuh bantuan malah punya seonggok vcd player? Televisinya juga lebih besar ketimbang punya Parto. Kok terbalik ya?


0 Responses to “Tiang dan Pasak: lebih besar yang mana?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: