18
Jul
08

Krisis BBM, Kemacetan, dan Transportasi Masal

Awal tahun 2008 hingga pertengahan 2008 kita menyaksikan grafik harga minyak dunia yang terus meningkat. Terakhir, sudah mencapai lebih dari US$140 per barel. Maka ributlah para pengamat dengan berbagai hasil amatannya masing-masing. Ada yang bilang karena permainan tingkat tinggi, dengan tidak lupa menambahkan kata “konspirasi”. Ada juga yang bilang karena menipisnya cadangan minyak dunia. Pokoknya banyak deh. Tapi, sepertinya semua sepakat untuk “mari menghemat penggunaan BBM” dan “mari mencari energi alternatif”. Saya sih mau lihat dari sisi “mari menghemat penggunaan BBM”.
Di jalan-jalan Jakarta, kita bisa melihat banyak sekali penyebab pemborosan penggunaan BBM. Salah satunya adalah kemacetan. Apa yang menyebabkan kemacetan? Kata para ahli transportasi sih, karena makin banyak kendaraan pribadi berlalulalang di jalanan Jakarta. Mengapa mobil pribadi makin banyak? Kata mereka yang menggunakan mobil pribadi: angkutan umum di Jakarta tidak manusiawi. Mengapa angkutan umum tidak manusiawi (ngetem seenaknya, mengoper penumpang seenaknya kalau sudah sepi penumpang, dan banyak lagi kelakuan yang menyebalkan)? Supir angkutan umum menjawab: saya harus kejar setoran. Dan seterusnya, yang saya sendiri tidak tahu dimana ujung jawabannya.
Saya sering perhatikan isi penumpang di angkutan umum yang kebetulan berpapasan ketika saya berangkat atau pulang kerja. Hampir semua angkutan umum itu tidak penuh penumpang. Ini yang membuat para supir berebut penumpang dengan cara ngetem di tempat terlarang sehingga membuat ruas jalan tersebut menjadi macet.  Artinya, kemungkinan besar jumlah angkutan umum lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya dibutuhkan oleh para penumpang. Atau dalam bahasa ilmu ekonomi: penawaran lebih besar daripada permintaan. Kalau saja penawaran seimbang dengan permintaan, kecil kemungkinan mereka ngetem dan akibat selanjutnya kemacetan bisa berkurang. Begitu juga, kalau penawaran seimbang dengan permintaan, kecil kemungkinan mereka akan menurunkan penumpang seenaknya di tengah perjalanan, melainkan mereka akan beroperasi dari terminal berangkat hingga berakhir di terminal tujuan. Dengan kondisi seperti itu, kemungkinan besar banyak orang yang senang naik kendaraan umum ketimbang harus menyupir kendaraannya sendiri, sehingga dampak lanjutannya adalah pemakaian BBM menjadi lebih hemat. Begitu juga, kalau penawaran seimbang dengan permintaan, BBM yang dibeli oleh supir akan sangat efisien karena tergunakan untuk mengangkut lebih banyak penumpang.
Secara tidak langsung, pemikiran ini mengusulkan adanya pengurangan jumlah angkutan umum yang beroperasi yang dampak negatifnya adalah meningkatkan pengangguran karena banyak supir yang kehilangan pekerjaannya. Tapi, ada jalan keluar mengenai hal ini, walaupun perlu upaya sungguh-sungguh untuk melakukannya. Tidak mengapa supir banyak, yang penting kendaraan umum diseimbangkan dengan kebutuhan penumpang. Bisa jadi, perbandingan kendaraan dan supir menjadi 1:3, misalnya. Kita tidak perlu memberhentikan 2 orang supir untuk menjadikannya 1:1 tetapi kita buat bergiliran 3 orang supir menggunakan 1 kendaraan umum. Logika sederhana akan mengatakan bahwa pendapatan supir itu tidak berkurang, toh secara agregat penumpang yang di bawanya tidak berkurang. Tapi, kita secara makro mempunyai keuntungan berupa penghematan penggunaan BBM, baik dari pengurangan operasional kendaraan umum maupun berkurangnya kendaraan pribadi karena pemiliknya telah nyaman berpindah ke kendaraan umum.
Kalau terjadi perbedaan permintaan antara jam-jam sibuk (jam berangkat atau pulang kantor), operasional kendaraan umum juga bisa diatur. Misalnya pada pagi dan sore dikerahkan kendaraan umum 100% dari yang tersedia, tapi dari pukul 9.00 hingga pukul 15.00 hanya dioperasikan 60%, tergantung dari riset permintaan dan penawaran jasa kendaraan umum.
Begitulah secara sederhana pikiran saya yang tidak telalu detil mengetahui bisnis angkutan umum. Mungkin Anda punya pikiran lain? Terutama mengenai dampak sosial kalau ide ini dijalankan, atau bagaimana pengaturan operasional kendaraan umum itu bisa dilakukan secara adil.


0 Responses to “Krisis BBM, Kemacetan, dan Transportasi Masal”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: