14
Des
07

Idul Adha 1428H: Ikut Arab Saudi?

Pemerintah Indonesia memutuskan bahwa Idul Adha 1428 H jatuh pada tanggal 20 Desember 2007. Begitu juga ormas-ormas Islam. Itu artinya, 1 Dzulhijah 1428 H bertepatan dengan tanggal 11 Desember 2007. Kalau kita lihat lagi perhitungan dengan MoonC, pada tanggal 9 Desember 2007, di Jakarta, bulan masih terbenam lebih dulu dibandingkan dengan matahari. Selisihnya sekitar 18 menit 15 detik. Dengan demikian bulan Dzulqaidah dibulatkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Dzulhijah 1428 H jatuh pada tanggal 11 Desember 2007.

Bagaimana dengan kondisi di Mekkah? Lagi-lagi, berdasarkan perhitungan MoonC, pada tanggal 9 Desember 2007, di Mekkah, bulan juga terbenam lebih dulu dibandingkan matahari dengan selisih 22 menit 36 detik. Artinya, 1 Dzulhijah 1428 H sama dengan Jakarta, jatuh pada tanggal 11 Desember 2007 dan 10 Dzulhijah 1428 H jatuh pada 20 Desember 2007. Namun demikian, ternyata, Pemerintah Arab Saudi, memenetapkan bahwa 10 Dzulhijah 1428 H jatuh pada 19 Desember 2007.

Bagaimana kita menyikapi perbedaan ini? Karena ini pernah terjadi pada beberapa tahu yang lalu, saya telah membuat postingan untuk hal ini pada Hari lebaran berbeda lagi?


10 Responses to “Idul Adha 1428H: Ikut Arab Saudi?”


  1. 1 budiutomopekalongan
    17-Desember-2007 pukul 10:08 pm

    • Fatwa Imam as-Syafi’i rahimahullah dalam kitab monumentalnya, Al-Umm, Juz I:261nomor: 441-442 : Idul Adha adalah hari dimana kaum muslimin sehari sebelumnya shaum yaum ‘Arafah tanpa ada jeda hari di dalam ‘asyru Zulhijjah.
    Semua nash hadits dan kitab-kitab mu’tabar menyebutnya dengan hari ‘Arafah atau shaum hari’Arafah. Sekali lagi adalah hari, dan sama sekali bukan tanggal.
    Lihat : Muslim [2:819] no.:1162; Abu Dawud [2:322] no.:2425; Turmudzi [1:144-145] no.:752; Nasa’i [1:344]; Ibnu Majah [1738, 1730], Imam Baihaqi [4:283], Imam Ahmad [5:296, 304, 307; Imam Thahawi [335, 338]. Dishahihkan oleh Syeikh Albani, sebagaimana dalam al-Irwa’ [4:111] no.hadits: 955]
    • Hasil Keputusan Mu’tamar Hay’ah Kibarul ‘Ulama di Saudi Arabia tanggal 13 Sya’ban 1392 H bertepatan dengan 21 September 1972 dengan dua keputusan utama :
    1. Beda mathla’ adalah sesuatu yang sudah diketahui secara pasti berdasarkan kenyataan empiri dan bukti rasional (hissan wa ‘aqlan). Dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya.
    2. Dengan demikian beda mathla’, semata-mata adalah perbedaan sudut pandang teori yang bisa ditolerir atau dipadukan antara keduanya. Karena pada kenyataannya dunia ini ada syuruq (bagian timur, duluan pagi), ada ghurub (bagian barat, duluan maghrib).
    Dalam hal perbedaan mathla’, maka jumhur Ulama mengatakan bahwa “La ‘ibrah bikhtilafil mathali’ (tidak dianggap adanya perbedaan mathla’). Jika penduduk suatu negara sudah melihat hilal, maka hilal ini juga adalah hilal negara lain. Demikian pandangan Jumhur ulama seperti Hanafi, Malik, Ahmad, al Laits dan Syafi’i, sesuai keumuman hadits Abu Hurairah. Inilah Mathla’ Global.
    • Fatwa Syeikhul Azhar, Dr. Abdul Halim Mahmud Th.. 1975, (lihat sumber : Majalah An-Nadwah edisi 20 Desember 1975) memuat : “Wajib hukumnya bagi seluruh dunia Islam untuk berpegang pada penetapan hilal Zulhijjah di Mamlakah Saudi Arabia. Dan pelaksanaannya tidak terlalu sulit bilamana ada pihak yang beralasan pada perbedaan wilayatul hukmi (ikhtilafu’d-dawl al-islamiyah).”
    • Rabithah ‘Alam Islami melalui Sekjendnya, Yang Mulia Syeikh Muhammad Shalih Qazzaz tahun 1976 mendukung Fatwa Syeikhul Azhar (1975) melaui surat nomor: 1/6/1/5/45 tertanggal 25 Juli 1975 Perihal Itsbat Idul Adha dan mengirimkan salinan Fatwa itu kepada Allahyarham Bapak Mohammad Natsir, selaku anggota Majlis Ta’sisi dan Mudir Maktab serta Penasehat Umum Rabithah ‘Alam Islami.
    • Hasil kesepakatan KTT Konferensi Islam Internasional (OKI) di Istanbul-Turki tahun 1978 yang menyatakan perlunya mengikuti penetapan Makkah al-Mukarramah sebagai qiblat Idul Adha, di mana urutan keduanya tidak bisa dipisahkan.
    • Muktamar Aman/Jordan tahun 1984 dan Muktamar Al-Falaki Al-Arabi at-Tsani (II) di Aman tahun 1997 yang menetapkan standard Idul Adha adalah wukuf di ‘Arafah, bahkan ada keinginan dari banyak negara untuk menjadikan Mekkah sebagai markaz penentuan itsbat, untuk menyudahi fase pertentangan penetapan hari raya Idul Adha.

    yang beda……mana komitmen kita…???

  2. 30-April-2008 pukul 1:40 am

    DARI ALBI FITRANSYAH

    UMAT ISLAM SELURUH DUNIA, GUNAKANLAH RUKYAT KOTA

    KONSEP RUKYAT KOTA YANG TERINTEGRASI SELURUH KOTA-KOTA DI DUNIA

    Assalamu’alaiukum.
    Saya seorang astronomi & matematika.
    Berdasarkan pemahaman saya & kesepakatan dari ahli astonomi muslim , bahwa ada beberapa ketentuan internasional mengenai penanggalan islam , yaitu:

    1. Rukyat hilal
    adalah dasar pergantian bulan-bulan qamariyah.

    2. Pola pergerakan Bumi, Bulan, dan Matahari telah menyebabkan belahan Bumi yang pertama kali mengalami rukyat hilal selalu berubah-ubah setiap bulan.

    3. Umur bulan qamariyah secara syar’i adalah 29 atau 30 hari.

    4. Umur tanggal adalah setara dengan umur hari, yakni 24 jam, karena tidak logis ada tanggal yang umurya hanya beberapa jam saja atau adanya keragu-raguan, sebanarnya setelah lewat maghrib, masih tanggal berapa sih? Apa sudah tanggal baru atau masing tanggal lama.

    5. Saat pergantian tanggal di dalam kalender qamariyah adalah pada waktu ghurub Matahari .

    Dalam Muktamar ke-30 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Lirboyo tahun 1999, rukyat internasional menjadi salah satu agenda bahasan Bahtsul Masail Diniyah. Permasalahannya adalah apakah boleh penentuan awal bulan qamariyah atau hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah, didasarkan atas rukyat internasional?
    Dengan pendekatan fiqh, muktamirin memutuskan bahwa penggunaan rukyat internasional untuk penentuan awal bulan qamariyah dengan mengenyampingkan batas-¬batas matla’ dan batas-batas kesatuan wilayah hukumah (pemerintahan) tidaklah dibenarkan.

    Di dalam wacana fiqh, jawaban untuk masalah ini diwakili oleh dua teori, yakni teori ittifaq al-Matali’ yang disusun oleh mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, dan teori ikhtilaf al-Matali’ yang dibangun oleh mazhab Syafi’i. NU, sebagai ormas keagamaan Islam yang akrab dengan belukar pemikiran fiqh mazhab Syafi’i, tentu saja condong berpegang pada teori ikhtilaf al-mntali’.
    Menurut teori ittifaq al-Matali’, peristiwa terbit hilal yang dapat dirukyat dari suatu kawasan Bumi tertentu mengikat seluruh kawasan Bumi lainnya di dalam mengawali dan menyudahi puasa Ramadhan. Dasarnya ialah bahwa sabda Nabi Muhammad SAW: Sumu liru’yatihi… (berpuasalah kalian karena melihat hilal), itu ditujukan untukseluruh umat secara umum, sehingga apabila salah seorang dari mereka telah merukyat hilal, di belahan Bumi mana pun ia berada, maka rukyatnya itu berlaku juga bagi mereka seluruhnya.
    Sedangkan menurut teori ikhtilaf al-Matali’, rukyat hilal itu hanya berlaku untuk kawasan rukyat itu sendiri dan untuk semua kawasan lainnya yang terletak di sebelah baratnya. Sedangkan untuk sebelah timurnya, rukyat hilal itu hanya berlaku bagi kawasan yang berada di dalam atau tidak melampaui ¬batas matla’.

    Rukyat di suatu kawasan, menurut teori ini, tidak dapat diberlakukan untuk seluruh dunia karena, pertama, berdasarkan riwayat Kuraib yang ditakhrij oleh Imam Muslim, bahwa Ibnu Abbas yang tinggal di Madinah menolak berpegang pada rukyat penduduk Syam kendati telah diisbat oleh khalifah Mu’awiyah. Ibnu Abbas mengemukakan alasan, Hakadza Amarana Rasulullah (Begitulah Rasulullah menyuruh kami). Kedua, adanya perbedaan terbit dan terbenam Matahari di pelbagai kawasan di Bumi menyebabkan tidak mungkin seluruh permukaan Bumi disamaratakan sebagai satu matila’.
    Karena “ajaran” perbedaan matla’nya inilah, teori ikhtilaf al-Matali’ dengan mudah dipersepsi sebagai biang terjadinya perbedaan hari dalam memulai maupun mengakhiri puasa Ramadhan di berbagai kawasan di Bumi. Bahkan, lebih jauh, teori ini pun kemudian dituding sebagai pemicu perpecahan umat
    Maka, dalam beberapa tahun terakhir ini muncul di kampus-kampus gerakan untuk memasyarakatkan teori ittifaq al-Matali’ (kesatuan matla’ intemasional) yang diharapkan menjadi jurus pamungkas pemersatu awal dan akhir Ramadhan di seantero dunia. Malah bila perlu, untuk menuju kesatuan waktu ibadah tersebut kaum muslimin digalang untuk bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam sejagat (khilafah).
    Tapi persoalannya, logiskah perintah Nabi SAW, Sumu liru’yatihi… itu difahami sebagai dalil yang menghendaki berlakunya rukyat secara intemasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihatnya dengan pendekatan yang proporsional.

    Pertama, kiranya kita sepakat bahwa hadis kandungan di atas adalah petunjuk tentang penentuan waktu memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan. Karena berkenaan dengan waktu, maka pemahaman akan implementasinya haruslah menggunakan logika sistem perjalanan waktu, bukan logika pengertian bahasa.

    Kedua, sunnatullah tentang sistem perjalanan waktu di Bumi adalah bersifat setempat-setempat (lokal), tidak bersifat global. Waktu di Bumi mengalir dari timur ke barat sejalan dengan aliran siang dan malam. Kawasan di timur mengalami syuruq dan ghurub Matahari lebih dulu daripada kawasan di barat. Semakin jauh jarak barat-timur antar kedua kawasan, semakin besar beda waktu antara keduanya. Maka, orang yang melakukan perjalanan jauh, melepaskan diri kawasan tinggalnya, akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan beda waktu.
    Dengan begitu, semua waktu yang disebut di dalam dalil-dalil syari’at logisnya adalah dipahami sesuai logika sistem perjalanan waktu di Bumi yang bersifat setempat-setempat itu. Kalau pada saat ghurub Matahari di Indonesia hilal belum bisa dirukyat, adalah tidak logis kalau kita kemudian mengikuti rukyatnya orang Mekah. Sama persis tidak logisnya dengan memahami masuknya waktu Zuhur untuk Indonesia pada kira-kira pukul 4 sore karena mengacu pada “tergelincir Matahari” nya Mekah, atau pada kira-kira pukul 10 pagi karena mengikuti “tergelincir Matahari”nya Tokyo.

    Kasus:

    a. Dalam kaitannya dengan penampakan hilal, di Indonesia pada tanggal 11 Oktober 2007 terdapat 2 daerah yang dipisahkan oleh sebuah garis, sebut saja garis batas wujdul-hilal untuk mudahnya(lihat gambar).

    b. Daerah sebelah barat garis batas wujdul-hilal dipastikan (insya Allah) hilal sudah dapat dilihat.

    c. Daerah sebelah timur garis batas wujdul-hilal dipastikan (insya Allah) hilal belum dapat dilihat.

    Dengan demikian bila rukyat dilakukan di Jakarta (sebelah barat garis batas wujdul-hilal) pada tanggal 11 Oktober 2007 di waktu magrib, maka hasilnya menyimpulkan bahwa besoknya (tanggal 12 Oktober 2007) adalah 1 Syawwal 1428 H. Tetapi kalau rukyat itu dilakukan di Samarinda atau Menado atau Ambon yang letaknya di sebelah timur garis batas wujdul-hilal maka hasilnya, insya Allah, menyimpulkan bahwa besoknya (tanggal 12 Oktober 2007) belum 1 Syawwal.

    Butir kedua prinsip kesatuan wilayatul-hukmi essensinya mengatakan bahwa Muhammadiyah menganut prinsip “hanya ada satu Lebaran untuk satu negara”. Prinsip ini nampaknya dianut juga oleh kubu rukyat dan kubu Pemerintah. Buktinya, sepanjang sejarah kubu-kubu ini tidak pernah menetapkan dua daerah Lebaran di Indonesia. Catatan: Dua wilayah hari Raya tidak sama dengan hari Raya ganda. Hari Raya ganda maksudnya ada dua hari Raya untuk satu tempat.

    Isu Utama dan Isu Minor
    Sepanjang pengamatan kami, ada isu yang dihembuskan sebagai isu utama sebagai sumber perbedaan dalam menyimpulkan akhir/awal Ramadan, yaitu masalah definisi hilal. Isu ini minor karena kesepakatan dapat dilakukan dengan mudah jika kedua pihak-pihak yang berbeda pendapat ini keluar dan melihat hilal secara langsung dan sepakat benda itulah yang disebut hilal. Isu yang lebih utama lagi sebenarnya adalah prinsip kesatuan wilayatul hikmi. Secara kenyataan bahwa Indonesia tahun ini akan mempunyai dua zona penampakan hilal. Ini akan menimbulkan persoalan bukan saja bagi kubu hisab tetapi juga kubu rukyat kalau metodanya menggunakan prinsip kesatuan wilayatul hukmi. Lalu bagaimana menyatukannya? Apakah 1 Syawwal mengikuti daerah yang sudah ada penampakan hilal atau harus tunggu sampai semua daerah sudah ada penampakan hilal? Apapun keputusannya hasil akhirnya akan bersifat “tanpa dasar yang logis” (arbitrary). Jangan heran kalau pendapat ulama, bahkan imam mazhab berbeda-beda. Menurut Imam Hanafi dan Maliki, kalender kamariah harus sama di dalam satu wilayah hukum suatu negara, inilah prinsip wilayatul hukmi. Sedangkan menurut Imam Hambali, kesamaan tanggal kamariah ini harus berlaku di seluruh dunia, di bagian bumi yang berada pada malam atau siang yang sama. Sementara itu, menurut Imam Syafi’i, kalender kamariah ini hanya berlaku di tempat-tempat yang berdekatan, sejauh jarak yang dinamakan mathla’. Inilah prinsip matlak madzhab Syafi’i.

    Yang menarik adalah pendapat Ibn Abbas, salah satu ulama yang pernah hidup di masa Rasullulah. Riwayat Kuraib yang diceritakan oleh Muslim bahwa Khalifah Mu’awiyyah di Damaskus shaum/puasa pada hari Jumat sementara Ibnu Abbas di Madinah shaum/puasa pada hari Sabtu. Ketika Kuraib bertanya kepada Ibnu Abbas kenapa tidak berbarengan saja dengan Mu’awiyyah, Ibnu Abbas r.a. menjawab : “Tidak, beginilah Rasulullah saw, telah memerintahkan kepada kami”. Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas tentu saja hadist nabi saw yang dikutip di atas. Padahal Damaskus dan Madinah waktu itu masih dalam satu wilayah hukum/satu kekhalifahan.

    Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada ayat al-Quran atau hadist yang bisa dikatakan memenuhi persyaratan cukup untuk menunjang konsep prinsip kesatuan wilayatul hukmi Ada hadist yang kadang diajukan sebagai dalil untuk penerapan prinsip kesatuan wilayatul hukmi, yaitu:

    Bahwa seorang Arab Baduwi datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata: “Saya telah melihat hilal (Ramadhan)”. Rasulullah saw. lalu bertanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?” Orang itu menjawab,’Ya.’ Kemudian Nabi SAW menyerukan: “Berpuasalah kalian” (HR. Abu Dawud, An Nasa`i, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).

    Tetapi hadist ini tidak bisa memenuhi syarat cukup sebagai dasar argumen untuk penerapan prinsip kesatuan wilayatul hukmi. Dalam hadist ini tidak disebutkan adanya isu perbedaan zona penampakan hilal. Apakah orang badui ini melihatnya di tempat yang jauh dari Madinah (tempat tinggal rasullulah) yang memungkinkan adanya perbedaan zone penampakan hilal? Tidak ada penjelasan

    Dengan kata lain, dasar hukum penggunaan prinsip kesatuan wilayatul hukmi tidak ada mempunyai persyaratan yang cukup. Para mazhab tidak punya kesamaan dan tidak diatur dalam hadist atau al-Quran.

    Pertama harus diakui bahwa tidak benar cara hisab dan rukyat adalah isu utama dari perbedaan hasil penentuan 1 Syawwal.

    Kedua harus diakui bahwa prinsip kesatuan wilayatul-hukmi adalah salah tempat dan salah applikasi. Prinsip kesatuan wilayatul-hukmi sebagai opini ulama, tidak bisa membatalkan hadist untuk menentukan akhir puasa (shaum) atau al-Quran untuk menentukan tanggal. Oleh sebab itu di Indonesia yang wilayahnya membentang sangat lebar (5,271 km) dan luas (1,919,440 km persegi) tidak mungkin selalu diberlakukan 1 hari Lebaran, tanpa melanggar juklak dari rasullulah (hadist nabi) dan pedoman al-Quran. Kadang-kadang Lebaran di Jakarta dan di Menado berbeda. Seperti halnya waktu sholat, waktu puasa dan Iedul Fitri tidak perlu sama untuk semua wilayah republik Indonesia. Jadi tahun ini ada dua wilayah Iedul Fitri di Indonesia, bukan dua Lebaran. Wilayah pertama adalah sebelah barat garis batas wujdul-hilal seperti kepulauan Tanibar, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat serta daerah-daerah di sebelah baratnya akan berhari Raya pada tanggal 12 Oktober 2007. Selebihnya dibagian timur akan berhari Raya pada tanggal 13 Oktober 2007).

    Kesimpulan:

    1. Di dalam kalender Islam terdapat garis tanggal wujudul hilal, yang dapat membelah bumi dengan posisi kemiringan tertentu. Sehingga selalu, dari batas garis wujudul hilal tersebut ke arah barat , kemungkinan melihat hilal semakin mungkin.

    2. Garis tanggal pembeda di atas pada setiap bulan dalam penanggalan Islam akan berubah-ubah letak dan posisinya. Jadi, bisa saja membelah suatu negara yang sangat luas.

    3. Seharusnya, dalam menentukan awal bulan, dalam hal ini penanggalan Islam, hendaknya saya mengusulkan agar, membuat DAFTAR KOTA-KOTA YANG SUDAH MASUK TANGGAL 1 ATAU BELUM. Misal:

    -Daftar kota-kota di seluruh dunia yang sudah masuk tanggal 1 adalah:
    Jakarta, Tanggerang, Pontianak, Padang, Medan, Aceh, Kuala Lumpur, Penang, Bangkok, New Delhi, Jeddah, Riyadh, Mekkah, Madinah, Kairo, London, dan seterusnya sampai ke barat sampai bertemu di titik garis wujudul hilal kembali>

    -Daftar kota-kota di seluruh dunia yang belum masuk tanggal 1 adalah:
    Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Ujung Panjang, Jayapura, Tokyo, terus ke barat sampai bertemu di titik garis batas wujudul hilal tadi

    Sehingga, saya atas nama ahli falaq mengusulkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, Departemen Agama RI, agar jika garis tanggal Wujudul hilal melewati Negara Indonesia, maka harus dilakukan pembagian wilayah waktu tanggal, seperti disebutkan sebelumnya.

    4. Tidak menjadi masalah dalam 1 negara terdapat 2 penanggalan yang berbeda . Tetapi dalam 1 kota diharuskan berada pada hari yang sama.

    5. Berdasarkan garis wujudul hilal di atas, kota-kota yang belum dapat melihat hilal tadi pada Ghurub Maghrib di tempat terbitnya hilal pertama kali, secara ilmiyah, pasti besoknya pada Ghurub matahari hari berikutnya pasti hilal akan nampak juga.

    6. HIZBUT TAHRIR, adalah salah. Jika kita akan menggunakan penanggalan apapun, pastinya harus ada garis tanggal yang membelah bumi menjadi 2 bagian yang berbada.

    7. HIZBUT TAHRIR telah mencampur adukkan penanggalan Islam dengan penanggalan Masehi.

    8. HIZBUT TAHRIR tidak memahami syarat-syarat penanggalan.

    9. Dengan menggunakan dan mengetahui garis tanggal wujudul hilal, maka tidak akan mengalami kekacauan penanggalan.

    10. Meskipun dunia telekomunikasi, internet, satelite, telah maju, sehingga seluruh dunia dapat menerima kabar hilal di suatu tempat, maka :
    JANGAN MEMEBRIKAN INFORMASI MUNCULNYA HILAL DI SUATU KOTA KEPADA ORANG YANG BERADA DI SEBELAH TIMUR.
    BERITAKANLAH KABAR MUNCULNYA HILAL KEPADA KOTA-KOTA YANG BERADA DI SEBELAH BARATNYA.

    11. Bumi adalah bulat. Tidak Datar.

    12. Jika tidak ada garis tanggal wujudul hilal, maka akan kacaulah penanggalan islam yang digunakan.

    13. HIZBUT TAHRIR TIDAK MEMAHAMI KAJIAN ILMIYAH ASTRONOMIS YANG ADA

    14. Seperti halnya, jadwal sholat, yang mana setiap kota di seluruh Indonesia berbeda-beda. Di Jakarta, maghrib jam 18.00 WIB, sedangkan di Bandung maghrib jam 17.55 WIB. Di Jogja maghrib jam 17.46 WIB.
    Jadi, dalam hal ini wujudul hilal sebagai pembelah bumi juga harus ada.

    MATEMATIKAWAN, & ASTRONOMER MUSLIM, ALBI FITRANSYAH,S.Si

  3. 30-April-2008 pukul 1:42 am

    HIZBUT TAHRIR TIDAK ILMIYAH

  4. 8-Januari-2009 pukul 5:29 pm

    Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Assalamu’laikum. Warahmatullahi wabarakatuh.

    Albi Fitransyah, S.Si.

    Dengan hormat,

    Kepada seluruh pengguna Internet sebagai media penyalur aspirasi, bahwasanya saya yang bernama Albi Fitransyah, S.Si menyatakan bahwa: ”Tulisan yang dimuat sebelumnya yang bernada tinggi dan keras adalah bukan tulisan saya.” Setelah hampir 2 tahun lamanya, ada orang (hacker/cracker) yang telah menerobos email saya, sehingga bisa mengetahui email dan password untuk menggunakan email saya. Setelah itu, saya langsung lapor ke yahoo.com, setelah itumulai tahun 2009, saya dapat menggunakan kembali email tersebut.

    Albi juga tidak menyalahkan pendapat Rukyat Global. Rukyat Global = Benar. Rukyat lokal = Benar.

    Apabila ada kalimat/pernyataan yang salah/menyinggung, sekali lagi Albi ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

    Demikian. Terima kasih.

    Wassalamu’alaikum.Warahmatullahi Wabarakatuh.

  5. 5 ansorrullah
    7-Februari-2010 pukul 2:11 pm

    ass…..
    ust ana mau tanya tentang isbat yang di keluarkan oleh hizbut tahrir dalam penentuan awal bulan qamariyah

  6. 6 ansorrullah
    7-Februari-2010 pukul 2:11 pm

    as…
    metode dalam penentuan awal bulan qamariyah

  7. 7-Februari-2010 pukul 5:58 pm

    @ansorrullah: ana tidak tahu bagaimana hizbut tahrir menentukan awal bulan qamariyah. sebaiknya antum tanya langsung kepada hizbut tahrir. tapi, menurut ana, penentuan bulan qamariyah tetap berdasarkan munculnya bulan baru pada saat magrib di suatu tempat. pemunculan bulan baru, saat ini bisa diprediksi dengan akurat menggunakan banyak software pilihan karena perputaran bulan dan matahari selalu konsisten sehingga tepat waktu. wallahu alam.

  8. 8 ansorrullah
    14-Maret-2010 pukul 8:58 am

    ass
    zajakallah….

    trus kalau d lihat dari pembahasan tentang sejarah pada zaman rasullulah, d mana dalam sebuah hadis atau nriwayat di jelaskan dalam 10 tahun di antaranya 7 tahun 29 hari dan 3 tahun 30 hari…trus bangaimana itu….apakah dahulu tidak membedakan tentang matla…….

  9. 15-Maret-2010 pukul 7:49 am

    Ana tidak terlalu menguasai astronomi. Tapi sepertinya perputaran posisi benda langit bukan hanya berulang tiap bulan atau tiap tahun tetapi juga beberapa tahun sekali. Kalau antum mau riset kecil-kecilan, coba pakai software MoonC, dan antum masukkan angka tahun (masehi tentunya) pada saat zaman Rasulullah SAW, antum bisa catat apakah memang pada rentang 10 tahun tersebut terjadi lebih banyak Ramadhan 29 hari ketimbang yang 30 hari. Nanti antum simpulkan sendiri. Wallahu ‘alam

  10. 9-Juni-2010 pukul 3:42 pm

    RW 01 SUKAAMAN BANDUNG

    Selasa, 08 Juni 2010
    KETUPAT MERDEKA RW 01 SUKAAMAN BANDUNG
    RW 01 Sukaaman Bandung, Masjid Al-Bayyinah Bandung, dan Masjid Al-Hassanah Bandung akan menyelenggarakan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 tahun sekaligus bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan 1431 Hijriyah.
    Untuk itu, beberapa point acara yang akan diselenggarakan di antaranya:
    1. Tanggal 25 Juli 2010 (Minggu), jam 07:00 WIB – selesai: Perlombaan Umum (Pancalomba), terdiri dari: Balap makan kolek, balap karung, balap kelereng, balap balon, futsal, lari marathon. Ditambah dengan kegiatan bazzar dari sponsor-sponsor yang ikut berpartisipasi pada acara ini.
    2. Tanggal 1 Agustus 2010 (Minggu), jam 07:00 WIB -selesai: Perlombaan Religi Islami, terdiri dari: Lomba adzan, lomba menggambar, kaligrafi, Musabaqah Tilawatil Quran, tahfidzul quran, cerdas cermat anak-anak, cerdas cermat remaja, cerdas cermat ibu-ibu dan bapak-bapak, debat islami, lomba busana muslim, Al-Bayyinah & Al-Hassanah Idol. Ditambah dengan kegiatan bazzar dari sponsor-sponsor yang ikut berpartisipasi pada acara ini.
    3. Tanggal 7 Agustus 2010 (Sabtu), jam 16:00 WIB – 22:00 WIB: “PENTAS SENI RELIGI DALAM KETUPAT MERDEKA”. Acara ini menampilkan kolaborasi nilai-nilai juang patriotisme dalam melawan penjajah dan nilai-nilai religi. Acaranya menampilkan: Nasyid, Pop Islami, Qashidah, Band-band Religi, Operet Lebaran, Puisi, Busana Muslim, pembagian hadiah, salam-salaman.
    4. Tanggal 16 Agustus 2010 (Selasa), jam 16:00 WIB – 22:00 WIB: “BUKA BARENG SEPANJANG JALAN SUKAAMAN + LAYAR TANCAP FILM RELIGI”. Bertepatan dgn Bulan Ramadhan menyambut buka puasa dan sholat taraweh bareng, setelah itu pemutaran Film Religi yang keren abizz.
    5. Tanggal 26 Agustus 2010 (Kamis), jam 20:00 WIB – selesai: “NUZULUL QURAN”. Syukuran khataman Quran 2 masjid Al-Bayyinah + Al-Hassanah.
    6. Tanggal 9 September 2010, jam 18:00 WIB – pagi: “WIRANTA BERTAKBIR”. Takbir bersama 2 masjid (Al-Bayyinah dan Al-Hassanah) kemeriahan sepanjang jalan wiranta.
    7. Tanggal 10 September 2010, jam 06:00 WIB: “SHOLAT IED + HALAL BIHALAL”.

    Bagi yang ingin menyumbangkan donatur dan ikut menyumbangkan lagu-lagunya harap menghubungi Albi Fitransyah dengan:
    albi_fit@yahoo.co.id
    08121479212


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: