07
Sep
09

TARAWIH 2 WAKTU

Ini ide lama.  Tapi saya tidak berani mengusulkan kepada pengurus mesjid terdekat, khawatir dianggap kontroversial.  Entahlah, apakah ada mesjid lain yang sudah menjalankan ide ini.  Idenya adalah, di mesjid, tarawih dilakukan 2 waktu, tentu saja dengan peserta yang berbeda.

Gelombang pertama dilakukan seperti pada kebanyakan orang melakukan pada saat ini, yaitu Isya berjamaah, diselingi ceramah, lalu tarawih.  Pesertanya adalah orang umum, termasuk anak-anak.  Bacaannya suratnya ringan agar peserta bisa menikmatinya.  Pokoknya, seperti yang berjalan pada kebanyakan mesjid saat ini.  Justru yang membedakan adalah tarawih gelombang kedua.

  Gelombang kedua dilakukan pada sekitar pukul 22.00.  Ini disediakan untuk:

  1. Orang yang merasa terganggu jika sholat dengan anak-anak karena berisiknya, tetapi menanggap tidak bijak untuk melarang anak-anak untuk tarawih di masjid.  Biar bagaimanapun, anak-anak perlu dibiasakan untuk berjamaah di mesjid dan kita perlu memahami dunia anak-anak yang memang masih senang bermain.  Tinggal kita saja yang mengalah untuk shalat tarawih di lain waktu.
  2. Orang yang ingin sholat tarawih di belakan imam yang hafal alquran sehingga bacaan suratnya bisa panjang (mungkin bisa 1 juz dalam semalam).  Kondisi ini memang lebih tepat untuk peserta bukan anak-anak dan bukan orang usia lanjut.
  3. Orang yang berpendapat bahwa sholat tarawih adalah sebenarnya sholat tahajud (qiyamul lail) yang dilakukan pada malam Bulan Ramadhan.  Padahal qiyamul lail itu diperintahkan oleh Allah dilakukan pada 1/3 malam, ½ malam, atau 2/3 malam (Alquran surat Almuzzammil).  Artinya, shalat qiyamullail paling awal dilakukan pada 1/3 malam yang saat itu kira-kira jatuh pada pukul 22.00

Bisakah direalisasikan?

18
Jul
08

Krisis BBM, Kemacetan, dan Transportasi Masal

Awal tahun 2008 hingga pertengahan 2008 kita menyaksikan grafik harga minyak dunia yang terus meningkat. Terakhir, sudah mencapai lebih dari US$140 per barel. Maka ributlah para pengamat dengan berbagai hasil amatannya masing-masing. Ada yang bilang karena permainan tingkat tinggi, dengan tidak lupa menambahkan kata “konspirasi”. Ada juga yang bilang karena menipisnya cadangan minyak dunia. Pokoknya banyak deh. Tapi, sepertinya semua sepakat untuk “mari menghemat penggunaan BBM” dan “mari mencari energi alternatif”. Saya sih mau lihat dari sisi “mari menghemat penggunaan BBM”.
Di jalan-jalan Jakarta, kita bisa melihat banyak sekali penyebab pemborosan penggunaan BBM. Salah satunya adalah kemacetan. Apa yang menyebabkan kemacetan? Kata para ahli transportasi sih, karena makin banyak kendaraan pribadi berlalulalang di jalanan Jakarta. Mengapa mobil pribadi makin banyak? Kata mereka yang menggunakan mobil pribadi: angkutan umum di Jakarta tidak manusiawi. Mengapa angkutan umum tidak manusiawi (ngetem seenaknya, mengoper penumpang seenaknya kalau sudah sepi penumpang, dan banyak lagi kelakuan yang menyebalkan)? Supir angkutan umum menjawab: saya harus kejar setoran. Dan seterusnya, yang saya sendiri tidak tahu dimana ujung jawabannya.
Saya sering perhatikan isi penumpang di angkutan umum yang kebetulan berpapasan ketika saya berangkat atau pulang kerja. Hampir semua angkutan umum itu tidak penuh penumpang. Ini yang membuat para supir berebut penumpang dengan cara ngetem di tempat terlarang sehingga membuat ruas jalan tersebut menjadi macet.  Artinya, kemungkinan besar jumlah angkutan umum lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya dibutuhkan oleh para penumpang. Atau dalam bahasa ilmu ekonomi: penawaran lebih besar daripada permintaan. Kalau saja penawaran seimbang dengan permintaan, kecil kemungkinan mereka ngetem dan akibat selanjutnya kemacetan bisa berkurang. Begitu juga, kalau penawaran seimbang dengan permintaan, kecil kemungkinan mereka akan menurunkan penumpang seenaknya di tengah perjalanan, melainkan mereka akan beroperasi dari terminal berangkat hingga berakhir di terminal tujuan. Dengan kondisi seperti itu, kemungkinan besar banyak orang yang senang naik kendaraan umum ketimbang harus menyupir kendaraannya sendiri, sehingga dampak lanjutannya adalah pemakaian BBM menjadi lebih hemat. Begitu juga, kalau penawaran seimbang dengan permintaan, BBM yang dibeli oleh supir akan sangat efisien karena tergunakan untuk mengangkut lebih banyak penumpang.
Secara tidak langsung, pemikiran ini mengusulkan adanya pengurangan jumlah angkutan umum yang beroperasi yang dampak negatifnya adalah meningkatkan pengangguran karena banyak supir yang kehilangan pekerjaannya. Tapi, ada jalan keluar mengenai hal ini, walaupun perlu upaya sungguh-sungguh untuk melakukannya. Tidak mengapa supir banyak, yang penting kendaraan umum diseimbangkan dengan kebutuhan penumpang. Bisa jadi, perbandingan kendaraan dan supir menjadi 1:3, misalnya. Kita tidak perlu memberhentikan 2 orang supir untuk menjadikannya 1:1 tetapi kita buat bergiliran 3 orang supir menggunakan 1 kendaraan umum. Logika sederhana akan mengatakan bahwa pendapatan supir itu tidak berkurang, toh secara agregat penumpang yang di bawanya tidak berkurang. Tapi, kita secara makro mempunyai keuntungan berupa penghematan penggunaan BBM, baik dari pengurangan operasional kendaraan umum maupun berkurangnya kendaraan pribadi karena pemiliknya telah nyaman berpindah ke kendaraan umum.
Kalau terjadi perbedaan permintaan antara jam-jam sibuk (jam berangkat atau pulang kantor), operasional kendaraan umum juga bisa diatur. Misalnya pada pagi dan sore dikerahkan kendaraan umum 100% dari yang tersedia, tapi dari pukul 9.00 hingga pukul 15.00 hanya dioperasikan 60%, tergantung dari riset permintaan dan penawaran jasa kendaraan umum.
Begitulah secara sederhana pikiran saya yang tidak telalu detil mengetahui bisnis angkutan umum. Mungkin Anda punya pikiran lain? Terutama mengenai dampak sosial kalau ide ini dijalankan, atau bagaimana pengaturan operasional kendaraan umum itu bisa dilakukan secara adil.

18
Jul
08

Tiang dan Pasak: lebih besar yang mana?

Saya sedang memperhatikan tiga teman saya. Teman pertama, sebut saja si Badu, menafkahi keluarganya dengan cara menjadi seorang pedagang kecil di sebuah pasar kecil di sebuah kota kabupaten. Bisa dibayangkan berapa penghasilannya sebulan. Teman kedua, sebut saja si Fulan, bekerja di sebuah perusahaan besar dengan level jabatan sebagai manajer menengah. Penghasilan sebulannya bisa mencapai 8 kali penghasilan si Badu.
Persamaan dari keduanya adalah sering mengeluh kepada teman saya yang ketiga, anggap saja namanya si Parto, tentang defisit keuangan keluarganya tiap bulan. Kalau melihat perbandingan penghasilan tiap bulan, sewajarnya yang mengeluh adalah si Badu, bukan si Fulan. Tetapi, mengapa keduanya mengeluh?
Begini kondisi si Badu. Dia mempunyai 4 anak. Semuanya masih sekolah atau kuliah. Kita bisa hitung kira-kira kebutuhan tiap bulannya. Beberapa tahun yang lalu, dia berhutang ke seseorang untuk memiliki tanah dan sebuah rumah sederhana. Beberapa tahun yang lalu pula, dia mengambil kredit motor bekas, karena anaknya yang besar berharap punya motor menjelang masa kuliah. Kejadian terakhir, dia menolak usulan si Parto untuk menyekolahkan anaknya yang memasuki jenjang SMP ke sekolah gratis, yang terjamin legalitas dan formalitasnya, hanya dengan alasan anaknya tidak mau kesekolah tersebut karena tidak ada temannya. Tentu saja, akhirnya dia harus memasukkan anaknya ke SMP berbayar. Makin besar pula kebutuhan keuangan bulanannya.
Kondisi si Fulan serupa tapi tak sama dengan si Badu. Dia sudah selesai mencicil rumahnya. Tapi dia berani mencicil kendaraan beroda empat, walaupun perusahaan tempatnya bekerja sudah memberikan fasilitas kendaraan beroda empat. Anak-anaknya banyak mengikuti kursus, baik kursus yang terkait dengan kesenian maupun olahraga. Hari-hari liburnya sering digunakan untuk rekreasi keluarga, baik sekadar jalan-jalan ataupun menginap di luar kota.
Apakah si Parto tidak pernah mengeluh defisit? Katanya kepada saya, istrinya sih pernah mengabarkan kalau kondisi keuangan keluarganya pas-pas an. Si Parto berpendapat, Alhamdulillah tidak defisit. Kondisi pas-pas an itu pun dengan catatan, rekening tiap anaknya sudah terisi dengan tabungan pada tiap bulannya. Itu semakin membuatnya merasa bersyukur. Mengapa bisa begitu? Apakah karena pendapatan si Parto lebih besar dari si Badu dan si Fulan?
Memang, pendapatan Parto lebih besar dari si Badu dan si Fulan. Tapi, sepertinya, bukan itu penyebab utamanya. Parto tidak punya beban cicilan kredit mobil, karena dia merasa mobil yang dipinjamkan oleh perusahaannya sudah cukup memenuhi kebutuhannya sekeluarga. Dia hanya terbebani pembayaran kursus Bahasa Inggris anak-anaknya, karena menurutnya kursus kesenian dan olahraga merupakan kebutuhan sekunder, atau malah tertsier. Dia memang memilih sekolah-sekolah berbayar untuk anak-anaknya, tapi ukuran berbayarnya masih dalam hitungan tersanggupi, bukan sekolah-sekolah berbayar yang malah menjadi beban tak tertanggung.
Jadi, tampaknya defisit bisa diminimalkan dengan cara “tahu diri” dengan kemampuan berbelanja untuk kebutuhan keluarga. Sayangnya, rasa canggung muncul di hati Parto, ketika ingin menasihati hal ini kepada si Badu dan si Fulan. Mengapa? Parto khawatir di benak kedua temannya akan muncul pendapat “ah, loe kan bisa bilang gitu karena loe punya gaji besar. Coba kalo loe kayak gw, pasti ngerasain juga kekurangan tiap bulannya”.
Parto juga punya cerita lain. Beberapa tahun yang lalu, datanglah seorang teman kepadanya meminta bantuan keuangan. Karena itu teman dekatnya, Parto pun bantu sebisanya. Tapi ketika Parto main ke rumah temannya itu, ada hal yang menurut Parto ironis. Parto melihat ada vcd player dan sebuah televisi besar. Pada tahun itu, vcd player masih terbilang barang “mewah” karena belum merakyat seperti sekarang. Nah, Parto yang dimintai bantuan saja tidak punya vcd player (karena dia anggap tidak membutuhkannya), kok sang teman yang butuh bantuan malah punya seonggok vcd player? Televisinya juga lebih besar ketimbang punya Parto. Kok terbalik ya?

14
Des
07

Idul Adha 1428H: Ikut Arab Saudi?

Pemerintah Indonesia memutuskan bahwa Idul Adha 1428 H jatuh pada tanggal 20 Desember 2007. Begitu juga ormas-ormas Islam. Itu artinya, 1 Dzulhijah 1428 H bertepatan dengan tanggal 11 Desember 2007. Kalau kita lihat lagi perhitungan dengan MoonC, pada tanggal 9 Desember 2007, di Jakarta, bulan masih terbenam lebih dulu dibandingkan dengan matahari. Selisihnya sekitar 18 menit 15 detik. Dengan demikian bulan Dzulqaidah dibulatkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Dzulhijah 1428 H jatuh pada tanggal 11 Desember 2007.

Bagaimana dengan kondisi di Mekkah? Lagi-lagi, berdasarkan perhitungan MoonC, pada tanggal 9 Desember 2007, di Mekkah, bulan juga terbenam lebih dulu dibandingkan matahari dengan selisih 22 menit 36 detik. Artinya, 1 Dzulhijah 1428 H sama dengan Jakarta, jatuh pada tanggal 11 Desember 2007 dan 10 Dzulhijah 1428 H jatuh pada 20 Desember 2007. Namun demikian, ternyata, Pemerintah Arab Saudi, memenetapkan bahwa 10 Dzulhijah 1428 H jatuh pada 19 Desember 2007.

Bagaimana kita menyikapi perbedaan ini? Karena ini pernah terjadi pada beberapa tahu yang lalu, saya telah membuat postingan untuk hal ini pada Hari lebaran berbeda lagi?

14
Nov
07

1 mil = … km?

“Untuk kembali ke kampungnya, ia harus berjalan kaki sejauh 40 mil. Betapa melelahkannya perjalanan itu”. Begitu seorang penerjemah buku fiksi yang menerjemahkan buku tersebut dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Tidak ada masalah dengan terjemahannya. Tapi, “rasa” yang ingin disampaikan oleh penulisnya kurang sampai kepada pembaca dalam Bahasa Indonesia. Mengapa?

Ketika penulis tersebut menulis 40 mil dalam buku Bahasa Inggrisnya, pembaca dalam Bahasa Inggris bisa membayangkan bagaimana letihnya berjalan kaki sejauh itu. Tapi, pembaca dalam Bahasa Indonesia akan sulit membayangkan, karena mereka tidak terbiasa dengan satuan mil. Mereka tidak bisa membayangkan berapa jauh sih 40 mil itu. Terpaksalah pembaca itu melihat catatan buku fisika untuk mengetahui berapa kilometer setara dengan 1 mil. Ketika diketahui bahwa 1 mil adalah 1,6 km, barulah bisa dibayangkan bagaimana letihnya perjalanan sekitar 64 km. Pembaca yang ada di Jakarta bisa membayangkan, bagaimana letihnya berjalan kaki dari Jakarta sampai Bogor, atau bahkan lebih jauh dari itu.

Mungkin lebih baik terjemahan itu mejadi “”Untuk kembali ke kampungnya, ia harus berjalan kaki sejauh 64 km. Betapa melelahkannya perjalanan itu”.

Hal seperti itu sering ditemukan bukan hanya di buku terjemahan, tetapi juga sering kita lihat di teks terjemahan di film-film, dan terjemahan dalam bentuk dubbing. Agar kerja Anda sebagai penerjemah bisa lebih dinikmati, sepertinya hal sepele ini perlu diperhatikan. Selamat menerjemahkan.

08
Okt
07

Ramadhan bulan latihan?

Saya menulis artikel ini pada malam tanggal 26 Ramadhan 1428H. Sudah 25 hari umat muslim berpuasa. Anda yang rajin bertarawih di masjid, ingatkah ada berapa penceramah yang menjelaskan bahwa Ramadhan itu bulan latihan? Latihan sabar, latihan menahan hawa nafsu, latihan menahan lapar dan haus, latihan meningkatkan intensitas ibadah. Kalaupun tidak banyak, sepertinya ada beberapa penceramah yang menyatakan hal tersebut. Benarkah Ramadhan itu bulan latihan?

Saya tanya kepada beberapa teman saya, apakah ada hadis atau ayat alquran yang secara eksplisit atau implisit menyatakan bulan Ramadhan itu bulan latihan. Teman saya tidak ada yang tahu ada nash yang menyatakan hal tersebut. Karena teman saya bukan ulama (bahkan level ustadz pun tidak), saya jadi belum yakin benar. Nah, kalau Anda tahu ada nash nya, sampaikan segera ke saya dan Anda tidak usah meneruskan membaca artikel ini.

Kalau memang tidak ada hadis atau ayat Quran yang menyatakan bahwa Ramadhan bulan latihan, itu artinya saya boleh berbeda pendapat. Dan menurut saya, bulan latihan adalah kesebelas bulan lain selain Ramadhan. Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan “pertempuran/pertandingan”. Alasannya?

Saya harus menganalogikan “latihan” dan “pertempuran/pertandingan” seperti seorang tentara atau olahragawan.

  1. Bagi seorang tentara atau olahragawan, mana yang paling panjang waktunya apakah latihan atau pertempuran/pertandingan? Umumnya lebih lama latihan. Latihan bisa berbulan-bulan tetapi pertandingan atau turnamen berlangsung hanya sebulan. Analogi bulan Ramadhan: Ramadhan hanya 1 bulan, sisanya ada 11 bulan.
  2. Mana yang mempunyai risiko lebih besar, apakah melakukan kesalahan pada masa latihan atau pada masa pertempuran/pertandingan. Pasti risiko lebih besar pada masa pertempuran/pertandingan. Seorang tentara yang melakukan kesalahan pada saat latihan, paling keras risikonya dimarahi oleh komandan. Tapi di medan pertempuran, risikonya nyawa melayang. Seorang kiper yang kebobolan gawangnya pada masa latihan, risikonya diminta latihan lebih baik oleh pelatihnya. Tapi di pertandingan sesungguhnya, risikonya adalah kekalahan tim. Analogi bulan Ramadhan: batal puasa di bulan Ramadhan, ada risiko (qada, fidiyah, atau puasa 2 bulan/memberi makan orang miskin). batal puasa sunnah di bulan lain, tidak ada risikonya
  3. Keberhasilan pada saat latihan hanya sedikit mendapat penghargaan (maksimal berupa pujian). Keberhasilan pada saat pertempuran/pertandingan bisa mendapat penghargaan yang melimpah: hadiah uang, kenaikan pangkat, bisa juga disebut sebagai pahlawan. Analogi bulan Ramadhan: pahala ibadah sunnah pada bulan Ramadhan setara dengan pahala ibadah wajib di bulan lain. Pahala ibadah wajib di bulan Ramadhan nilainya 70 kali pahala ibadah wajib di bulan lain.

Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa bulan lain di luar Ramadhan adalah bulan latihan. Biasakanlah shalat malam di bulan lain, agar pada saat bulan Ramadhan kita tidak merasa berat melakukan shalat malam yang pahalanya dilipatgandakan. Biasakanlah puasa sunnah di bulan lain, agar pada saat bulan Ramadhan kita merasa ringan melakukan puasa wajib yang pahalanya dijanjikan langsung oleh Allah SWT. Biasakanlah membaca Alquran di bulan lain, sehingga pada saat bulan Ramadhan kita bisa lebih serius mengkaji makna isi Alquran.

Begitulah akal saya berkata. Tapi, sekali lagi, jika ada nash yang menyatakan bahwa Ramadhan itu bulan latihan (baik eksplisit maupun implisit), saya cabut wacana ini, dan saya sami’na wa ato’na.

30
Sep
07

Warisan dan persamaan matematika

Konsultan pajak? saya sudah lama dengar keberadaannya. Konsultan pajak keuangan? Akhir-akhir ini semakin banyak dicari orang. Konsultan waris? Sepertinya masih berupa profesi yang langka, kalau tidak mau dibilang belum ada. Anda berminat?

Kalau berminat, anda harus menguasai dulu pemahaman atas Q.S.4:11-12. Ditambah pengetahuan tentang persamaan matematika. Ini buktinya.

Kasus yang paling sederhana dalam pembagian waris adalah warisan yang hanya dibagikan kepada anak. Rumus yang diperintahkan Allah dalam ayat itu adalah anak laki-laki mendapat 2 kali dari anak perempuan. Dengan bahasa matematika perbandingan laki-laki (x) dan perempuan (y) adalah

x:y = 2:1

atau

x=2y (1)

Contoh nyatanya pernah terjadi pada keluarga saya. Ibu saya adalah 3 bersaudara yang terdiri dari 1 anak laki dan 2 anak perempuan. Bagaimana persentase pembagian warisan dari kakek saya?

Kalau seluruh hartanya 100%, maka

1 anak laki + 2 anak perempuan=100%

Atau

x + 2y = 100%

x = 100%-2y (2)

Untuk mengetahui berapa % masing-masing anak mendapatkan warisan, kita harus selesaikan 2 persamaan di atas

x= 2y (1)

x=100%-2y (2)

2y=100%-2y

4y=100%

y=25%

x=2 x 25%= 50%

Dengan demikian anak laki-laki mendapat 50% dan anak perempuan masing-masing mendapat 25%. Kalau harta yang ditinggalkan bernilai Rp10juta, ibu saya mendapat warisan sebesar Rp2,5juta.

Cobalah anda hitung jika ada 3 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Kalau berhasil, anda jangan langsung pasang iklan sebagai konsultan warisan karena perhitungan lebih rumit harus anda uji lagi, seperti misalnya yang mendapat waris bukan hanya anak tapi ada pula orang tua dari yang meninggal.




Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.