Awal tahun 2008 hingga pertengahan 2008 kita menyaksikan grafik harga minyak dunia yang terus meningkat. Terakhir, sudah mencapai lebih dari US$140 per barel. Maka ributlah para pengamat dengan berbagai hasil amatannya masing-masing. Ada yang bilang karena permainan tingkat tinggi, dengan tidak lupa menambahkan kata “konspirasi”. Ada juga yang bilang karena menipisnya cadangan minyak dunia. Pokoknya banyak deh. Tapi, sepertinya semua sepakat untuk “mari menghemat penggunaan BBM” dan “mari mencari energi alternatif”. Saya sih mau lihat dari sisi “mari menghemat penggunaan BBM”.
Di jalan-jalan Jakarta, kita bisa melihat banyak sekali penyebab pemborosan penggunaan BBM. Salah satunya adalah kemacetan. Apa yang menyebabkan kemacetan? Kata para ahli transportasi sih, karena makin banyak kendaraan pribadi berlalulalang di jalanan Jakarta. Mengapa mobil pribadi makin banyak? Kata mereka yang menggunakan mobil pribadi: angkutan umum di Jakarta tidak manusiawi. Mengapa angkutan umum tidak manusiawi (ngetem seenaknya, mengoper penumpang seenaknya kalau sudah sepi penumpang, dan banyak lagi kelakuan yang menyebalkan)? Supir angkutan umum menjawab: saya harus kejar setoran. Dan seterusnya, yang saya sendiri tidak tahu dimana ujung jawabannya.
Saya sering perhatikan isi penumpang di angkutan umum yang kebetulan berpapasan ketika saya berangkat atau pulang kerja. Hampir semua angkutan umum itu tidak penuh penumpang. Ini yang membuat para supir berebut penumpang dengan cara ngetem di tempat terlarang sehingga membuat ruas jalan tersebut menjadi macet. Artinya, kemungkinan besar jumlah angkutan umum lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya dibutuhkan oleh para penumpang. Atau dalam bahasa ilmu ekonomi: penawaran lebih besar daripada permintaan. Kalau saja penawaran seimbang dengan permintaan, kecil kemungkinan mereka ngetem dan akibat selanjutnya kemacetan bisa berkurang. Begitu juga, kalau penawaran seimbang dengan permintaan, kecil kemungkinan mereka akan menurunkan penumpang seenaknya di tengah perjalanan, melainkan mereka akan beroperasi dari terminal berangkat hingga berakhir di terminal tujuan. Dengan kondisi seperti itu, kemungkinan besar banyak orang yang senang naik kendaraan umum ketimbang harus menyupir kendaraannya sendiri, sehingga dampak lanjutannya adalah pemakaian BBM menjadi lebih hemat. Begitu juga, kalau penawaran seimbang dengan permintaan, BBM yang dibeli oleh supir akan sangat efisien karena tergunakan untuk mengangkut lebih banyak penumpang.
Secara tidak langsung, pemikiran ini mengusulkan adanya pengurangan jumlah angkutan umum yang beroperasi yang dampak negatifnya adalah meningkatkan pengangguran karena banyak supir yang kehilangan pekerjaannya. Tapi, ada jalan keluar mengenai hal ini, walaupun perlu upaya sungguh-sungguh untuk melakukannya. Tidak mengapa supir banyak, yang penting kendaraan umum diseimbangkan dengan kebutuhan penumpang. Bisa jadi, perbandingan kendaraan dan supir menjadi 1:3, misalnya. Kita tidak perlu memberhentikan 2 orang supir untuk menjadikannya 1:1 tetapi kita buat bergiliran 3 orang supir menggunakan 1 kendaraan umum. Logika sederhana akan mengatakan bahwa pendapatan supir itu tidak berkurang, toh secara agregat penumpang yang di bawanya tidak berkurang. Tapi, kita secara makro mempunyai keuntungan berupa penghematan penggunaan BBM, baik dari pengurangan operasional kendaraan umum maupun berkurangnya kendaraan pribadi karena pemiliknya telah nyaman berpindah ke kendaraan umum.
Kalau terjadi perbedaan permintaan antara jam-jam sibuk (jam berangkat atau pulang kantor), operasional kendaraan umum juga bisa diatur. Misalnya pada pagi dan sore dikerahkan kendaraan umum 100% dari yang tersedia, tapi dari pukul 9.00 hingga pukul 15.00 hanya dioperasikan 60%, tergantung dari riset permintaan dan penawaran jasa kendaraan umum.
Begitulah secara sederhana pikiran saya yang tidak telalu detil mengetahui bisnis angkutan umum. Mungkin Anda punya pikiran lain? Terutama mengenai dampak sosial kalau ide ini dijalankan, atau bagaimana pengaturan operasional kendaraan umum itu bisa dilakukan secara adil.
Arsip untuk Kategori 'Sosial'
Saya sedang memperhatikan tiga teman saya. Teman pertama, sebut saja si Badu, menafkahi keluarganya dengan cara menjadi seorang pedagang kecil di sebuah pasar kecil di sebuah kota kabupaten. Bisa dibayangkan berapa penghasilannya sebulan. Teman kedua, sebut saja si Fulan, bekerja di sebuah perusahaan besar dengan level jabatan sebagai manajer menengah. Penghasilan sebulannya bisa mencapai 8 kali penghasilan si Badu.
Persamaan dari keduanya adalah sering mengeluh kepada teman saya yang ketiga, anggap saja namanya si Parto, tentang defisit keuangan keluarganya tiap bulan. Kalau melihat perbandingan penghasilan tiap bulan, sewajarnya yang mengeluh adalah si Badu, bukan si Fulan. Tetapi, mengapa keduanya mengeluh?
Begini kondisi si Badu. Dia mempunyai 4 anak. Semuanya masih sekolah atau kuliah. Kita bisa hitung kira-kira kebutuhan tiap bulannya. Beberapa tahun yang lalu, dia berhutang ke seseorang untuk memiliki tanah dan sebuah rumah sederhana. Beberapa tahun yang lalu pula, dia mengambil kredit motor bekas, karena anaknya yang besar berharap punya motor menjelang masa kuliah. Kejadian terakhir, dia menolak usulan si Parto untuk menyekolahkan anaknya yang memasuki jenjang SMP ke sekolah gratis, yang terjamin legalitas dan formalitasnya, hanya dengan alasan anaknya tidak mau kesekolah tersebut karena tidak ada temannya. Tentu saja, akhirnya dia harus memasukkan anaknya ke SMP berbayar. Makin besar pula kebutuhan keuangan bulanannya.
Kondisi si Fulan serupa tapi tak sama dengan si Badu. Dia sudah selesai mencicil rumahnya. Tapi dia berani mencicil kendaraan beroda empat, walaupun perusahaan tempatnya bekerja sudah memberikan fasilitas kendaraan beroda empat. Anak-anaknya banyak mengikuti kursus, baik kursus yang terkait dengan kesenian maupun olahraga. Hari-hari liburnya sering digunakan untuk rekreasi keluarga, baik sekadar jalan-jalan ataupun menginap di luar kota.
Apakah si Parto tidak pernah mengeluh defisit? Katanya kepada saya, istrinya sih pernah mengabarkan kalau kondisi keuangan keluarganya pas-pas an. Si Parto berpendapat, Alhamdulillah tidak defisit. Kondisi pas-pas an itu pun dengan catatan, rekening tiap anaknya sudah terisi dengan tabungan pada tiap bulannya. Itu semakin membuatnya merasa bersyukur. Mengapa bisa begitu? Apakah karena pendapatan si Parto lebih besar dari si Badu dan si Fulan?
Memang, pendapatan Parto lebih besar dari si Badu dan si Fulan. Tapi, sepertinya, bukan itu penyebab utamanya. Parto tidak punya beban cicilan kredit mobil, karena dia merasa mobil yang dipinjamkan oleh perusahaannya sudah cukup memenuhi kebutuhannya sekeluarga. Dia hanya terbebani pembayaran kursus Bahasa Inggris anak-anaknya, karena menurutnya kursus kesenian dan olahraga merupakan kebutuhan sekunder, atau malah tertsier. Dia memang memilih sekolah-sekolah berbayar untuk anak-anaknya, tapi ukuran berbayarnya masih dalam hitungan tersanggupi, bukan sekolah-sekolah berbayar yang malah menjadi beban tak tertanggung.
Jadi, tampaknya defisit bisa diminimalkan dengan cara “tahu diri” dengan kemampuan berbelanja untuk kebutuhan keluarga. Sayangnya, rasa canggung muncul di hati Parto, ketika ingin menasihati hal ini kepada si Badu dan si Fulan. Mengapa? Parto khawatir di benak kedua temannya akan muncul pendapat “ah, loe kan bisa bilang gitu karena loe punya gaji besar. Coba kalo loe kayak gw, pasti ngerasain juga kekurangan tiap bulannya”.
Parto juga punya cerita lain. Beberapa tahun yang lalu, datanglah seorang teman kepadanya meminta bantuan keuangan. Karena itu teman dekatnya, Parto pun bantu sebisanya. Tapi ketika Parto main ke rumah temannya itu, ada hal yang menurut Parto ironis. Parto melihat ada vcd player dan sebuah televisi besar. Pada tahun itu, vcd player masih terbilang barang “mewah” karena belum merakyat seperti sekarang. Nah, Parto yang dimintai bantuan saja tidak punya vcd player (karena dia anggap tidak membutuhkannya), kok sang teman yang butuh bantuan malah punya seonggok vcd player? Televisinya juga lebih besar ketimbang punya Parto. Kok terbalik ya?
Hari Besar (Libur) Islam
Di Indonesia, kita mempunyai banyak libur nasional. Cuma 1 hari yang berkaitan dengan nasionalisme yaitu 17 Agustus. Sebagian besar yang lain berhubungan dengan tema agama. Libur yang katanya Hari Besar Islam ada berapa ya? Idul Fitri (2 hari), Idul Adha, Isra Miraj, 1 Muharam, dan Maulid Nabi. Perlu gak sih libur untuk hari-hari itu?
Pada Idul Fitri dan Idul Adha ada ibadah yang perlu dilakukan yaitu shalat ied. Khusus Idul Adha bahkan ada tambahan lagi yaitu pemotongan hewan kurban. Jadi, kedua hari perayaan ini memang perlu diliburkan.
Kalau Isra Miraj, 1 Muharam, dan Maulid Nabi? Tidak ada syariat tertentu yang menyatakan pada ketiga hari itu ada ibadah khusus. Jadi buat apa diliburkan?
Tapi, ada pula usulan, agar Indonesia terlihat islami, libur jangan di hari minggu, tapi di hari Jumat, karena Jumat merupakan salah satu dari hari raya Islam seperti hadist Nabi:
Diriwayatkan pula dai Amir al-Asy’ari, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya hari Jumat itu merupakan hari rayamu, karena itu janganlah kamu berpuasa pada hari itu, kecuali jika kamu berpuasa sebelum atau sesudahnya!” (HR al-Bazar dengan sanad yang hasan)
Pengusul ini lupa, bahwa di dalam Q.S 62:10, Allah memerintahkan bahwa setelah shalat Jumat kita harus bekerja kembali. Tersirat di situ, hari Jumat tidak harus libur.
Lalu, kapan kita perlu libur?
Saya pernah mendengar pandangan seorang ustadz, yang mengusulkan libur atau cuti tahunan selama 10 hari diambil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti kita tahu, 10 hari tersebut muslimin disunahkan untuk itikaf, yaitu kegiatan tinggal di dalam mesjid (tidak pulang ke rumah) untuk melakukan berbagai ibadah di tempat tersebut. Kalau tidak libur atau cuti, mana mungkin kita bisa melakukannya.
Poin lain yang ingin saya sampaikan di sini adalah masyarakat Indonesia perlu menata ulang hari liburnya. Saat ini terlalu banyak libur di Indonesia. Tadi saya baru menyebutkan hari libur dari Islam yang menurut saya tidak perlu libur. Belum lagi dari agama lain, yang mungkin kalau dikaji lagi belum tentu ajaran agama tersebut memerlukan libur pada hari-hari itu. Kita masih perlu kerja keras untuk mengejar ketertinggalan. Masih perlu banyak waktu untuk mengejar. Mengapa libur kok banyak sekali?
Paralel
Anda tinggal di mana? Di Indonesia juga seperti saya? Saya tinggal di Jakarta. Tapi kalau mengenai kemacetan, sepertinya sebagian besar kota di Indonesia mengalami juga, cuma tingkat keparahannya saja yang berbeda. Akhirnya, banyak waktu kita terbuang di jalan raya. Kalau memecahkan masalah macet pasti bukan wewenang kita, tapi ada beberapa hal yang bisa kita kerjakan agar waktu yang terbuang bisa diminimalkan. Caranya? Bertindaklah paralel. Susah menjelaskannya, tapi saya akan berikan beberapa contoh.
Saya merasa kesal pada saat antre di gerbang tol dan pengendara mobil di depan saya baru membuka dompet ketika sampai di gerbang tersebut. Coba jumlah waktu yang dibutuhkannya: mengambil dompet di saku celana belakang (huh, susahnya) + membuka dompet + memilih uang, baru uang itu diserahkan kepada petugas tol. Belum lagi tambahan waktu jika uang yang diserahkan bernilai Rp 100 ribu untuk membayar tol yang hanya Rp 1.500. Kalau saja dia sudah siapkan uang itu di laci mobil, atau sudah dia ambil di dompet ketika dia sedang mengantre sebelum tiba di loket tol, pasti ada waktu yang bisa dihemat.
Mirip dengan kejadian di jalan tol tadi. Seorang penumpang turun dari angkot. Ketika keluar dari angkot itu, dia baru mencari uang untuk bayar ongkosnya. Padahal dia bisa lakukan itu sebelum dia turun, sehingga pada saat sampai di tempat tujuannya, dia tinggal memberikan uang itu kepada sang supir angkot. Lumayan, ada waktu yang dihemat sehingga antrean di belakang angkot itu tidak menunggu terlalu lama.
Contoh terakhir terjadi di pompa bensin. Pernah lihat seseorang yang mengisi bensin menunggu bensin yang dipesannya selesai terisi di mobil atau motornya sebelum membayar? Padahal kalau dia pesan untuk diisi bensin sebanyak 10 liter, dia sudah bisa memberikan uangnya kepada petugas pompa bensin sehingga pada saat bensin selesai diisi dia sudah bisa melanjutkan perjalanan tanpa ada lagi urusan transaksi. Belum lagi bagi mereka yang minta dituliskan bon bensin. Sebenarnya petugas pompa bensin bisa menulis bon tersebut ketika bensin sedang diisi, karena selangnya bisa ditinggal. Kalau itu dilakukan, beberapa menit bisa dihemat. Antrean di belakannya juga tidak terlalu lama menunggu.
Nah, kalau banyak orang melakukan itu, berapa jam bisa dihemat di antrean-antrean yang ada di kota besar? Silakan mencoba
Komentar Terakhir