Arsip untuk Kategori 'Bahasa'

14
Nov
07

1 mil = … km?

“Untuk kembali ke kampungnya, ia harus berjalan kaki sejauh 40 mil. Betapa melelahkannya perjalanan itu”. Begitu seorang penerjemah buku fiksi yang menerjemahkan buku tersebut dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Tidak ada masalah dengan terjemahannya. Tapi, “rasa” yang ingin disampaikan oleh penulisnya kurang sampai kepada pembaca dalam Bahasa Indonesia. Mengapa?

Ketika penulis tersebut menulis 40 mil dalam buku Bahasa Inggrisnya, pembaca dalam Bahasa Inggris bisa membayangkan bagaimana letihnya berjalan kaki sejauh itu. Tapi, pembaca dalam Bahasa Indonesia akan sulit membayangkan, karena mereka tidak terbiasa dengan satuan mil. Mereka tidak bisa membayangkan berapa jauh sih 40 mil itu. Terpaksalah pembaca itu melihat catatan buku fisika untuk mengetahui berapa kilometer setara dengan 1 mil. Ketika diketahui bahwa 1 mil adalah 1,6 km, barulah bisa dibayangkan bagaimana letihnya perjalanan sekitar 64 km. Pembaca yang ada di Jakarta bisa membayangkan, bagaimana letihnya berjalan kaki dari Jakarta sampai Bogor, atau bahkan lebih jauh dari itu.

Mungkin lebih baik terjemahan itu mejadi “”Untuk kembali ke kampungnya, ia harus berjalan kaki sejauh 64 km. Betapa melelahkannya perjalanan itu”.

Hal seperti itu sering ditemukan bukan hanya di buku terjemahan, tetapi juga sering kita lihat di teks terjemahan di film-film, dan terjemahan dalam bentuk dubbing. Agar kerja Anda sebagai penerjemah bisa lebih dinikmati, sepertinya hal sepele ini perlu diperhatikan. Selamat menerjemahkan.

21
Sep
07

dirgahayu

Bagi Anda yang tinggal di Jakarta, masih ingatkah bahwa kota tempat tinggal Anda itu berulang tahun setiap tanggal 22 Juni?

Tidak usah khawatir. Kalau Anda lupa, sepertinya sudah ada beberapa spanduk yang mengingatkan bahwa ulang tahun Jakarta tinggal beberapa hari lagi. Di jalan tol yang saya lewati tadi pagi (20-06-2007)  sudah ada beberapa spanduk yang dipasang oleh pengelola jalan tol: “Dirgahayu Kota Jakarta ke-480”. Waduh!!!

Saya lihat di kamus, dirgahayu itu berarti “panjang umur” dan biasa disampaikan untuk negara atau organisasi. Jadi, kata-kata di spanduk itu bisa berarti “Panjang Umur Kota Jakarta ke-480”. Nah loh?

Saya sudah sering membaca tulisan yang mengkritik penulisan yang salah ini, sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi, sampai sekarang, masih banyak masyarakat yang salah juga. Tanya kenapa? (kok “kenapa”? Bukannya “mengapa”?. Lain kali kita bicarakan soal ini). Sampai-sampai, situs kota Jakarta (http://www.beritajakarta.com) masih menampilkan “Dirgahayu Kota Jakarta ke-480”

Nah, buat Anda yang sering menjadi panitia HUT RI di bulan Agustus, ingat ya, kalau bikin spanduk menggunakan kata “dirgahayu”, tulislah ‘DIRGAHAYU RI”. Tapi, kalau mau pakai angka tulislah “Selamat HUT ke-62 RI” (kok bukannya “Selamat HUT RI ke-62”?. Anda bisa cari sendiri jawabannya.)

21
Sep
07

Dua juta setengah?

Jika Anda bertanya kepada seorang teman yang baru membeli sebuah handphone, “berapa harganya?”, lalu teman Anda menjawab “Dua juta setengah.”, apa yang ada dibenak anda? Tentu saja harga handphone itu adalah Rp 2.500.000.

Sadarkah Anda bahwa “dua juta setengah” itu bukannya 2.500.000 melainkan 2.000.000,5. Bahasa seperti ini awalnya sering diucapkan oleh orang-orang yang berpendidikan rendah, tetapi saat ini sudah mulai menular kepada mereka yang berpendidikan tinggi. Bahkan sebuah media cetak nasional pun sudah tertular. Lihatlah, Koran sekelas Media Indonesia sudah tertular. Pada keterangan foto di halaman pertama hari ini (18-6-2007) mengenai TKI yang mencoba melarikan diri dari lantai 15 di sebuah kondominium di Malaysia, pada kata terakhir tertulis “empat bulan setengah”. Bukankah maksudya “empat setengah bulan?”

21
Sep
07

Penyiar Radio/TV

Saat ini, perhatikanlah penggunaan Bahasa Indonesia yang semakin longgar. Berikut contoh beberapa “keanehan” yang sering saya temui.

Bagaiamana Anda membaca 2,3? Apakah “Dua koma tiga” atau “Dua poin tiga”? Jelaslah dalam Bahasa Indonesia itu dibaca “dua koma tiga”. Tapi banyak di antara kita membacanya “dua poin tiga”. Kalau mau pakai bahasa Inggris, ya sebut saja “two point three”.

Bagaimana Anda Membaca “George W Bush”? Di beberapa stasiun radio dan tv di jakarta huruf “W” itu dibaca “double yu” padahal jelas-jelas radio atau tv itu sedang menyampaikan berita dalam Bahasa Indonesia. Sebaliknya, dengarkan radio Australia atau BBC. Ketika sedang menyampaikan berita dalam Bahasa Indonesia, radio Australia atau BBC menyebut huruf “W” itu dengan “we”. Begitu juga dengan kata “Cina” Sebagian radio di jakarta menyebutnya dengan “Cayna”, padahal berita itu dibacakan dalam Bahasa Indonesia.

Di sebuah radio berita di jakarta, penyiarnya ketika sedang bertanya kepada nara sumber mengenai, misalnya, kondisi korban kecelakan, akan bertanya “Seperti apa pak keadaan korban?” Aneh ya, pakai kata “Seperti apa”. Padahal sudah ada kata “Bagaimana”. Lebih enak kedengarannya kalau ditanya “Bagaimana pak keadaan korban?”.

Terakhir. Dalam laporan hasil pertandingan sepakbola. Misalnya pertandingan antar Arsenal melawan Chelsea, dan Arsenal menciptakan gol di menit ke-15. Kalau Arsenal menciptakan gol lagi, misalnya, pada menit ke 25, penyampai berita mengatakan “Arsenal menggandakan golnya pada menit ke 25″. Menggandakan? Menggandakan itu seharusnya digunakan untuk perbanyakan sesuatu yang identik, dan biasanya mengikuti perkalian bukan penambahan (misalkan, fotokopi). Kalau gol? Seharusnya sih bukan menggandakan tapi menambah.

Anda punya contoh yang lain?