Saya menulis artikel ini pada malam tanggal 26 Ramadhan 1428H. Sudah 25 hari umat muslim berpuasa. Anda yang rajin bertarawih di masjid, ingatkah ada berapa penceramah yang menjelaskan bahwa Ramadhan itu bulan latihan? Latihan sabar, latihan menahan hawa nafsu, latihan menahan lapar dan haus, latihan meningkatkan intensitas ibadah. Kalaupun tidak banyak, sepertinya ada beberapa penceramah yang menyatakan hal tersebut. Benarkah Ramadhan itu bulan latihan?
Saya tanya kepada beberapa teman saya, apakah ada hadis atau ayat alquran yang secara eksplisit atau implisit menyatakan bulan Ramadhan itu bulan latihan. Teman saya tidak ada yang tahu ada nash yang menyatakan hal tersebut. Karena teman saya bukan ulama (bahkan level ustadz pun tidak), saya jadi belum yakin benar. Nah, kalau Anda tahu ada nash nya, sampaikan segera ke saya dan Anda tidak usah meneruskan membaca artikel ini.
Kalau memang tidak ada hadis atau ayat Quran yang menyatakan bahwa Ramadhan bulan latihan, itu artinya saya boleh berbeda pendapat. Dan menurut saya, bulan latihan adalah kesebelas bulan lain selain Ramadhan. Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan “pertempuran/pertandingan”. Alasannya?
Saya harus menganalogikan “latihan” dan “pertempuran/pertandingan” seperti seorang tentara atau olahragawan.
- Bagi seorang tentara atau olahragawan, mana yang paling panjang waktunya apakah latihan atau pertempuran/pertandingan? Umumnya lebih lama latihan. Latihan bisa berbulan-bulan tetapi pertandingan atau turnamen berlangsung hanya sebulan. Analogi bulan Ramadhan: Ramadhan hanya 1 bulan, sisanya ada 11 bulan.
- Mana yang mempunyai risiko lebih besar, apakah melakukan kesalahan pada masa latihan atau pada masa pertempuran/pertandingan. Pasti risiko lebih besar pada masa pertempuran/pertandingan. Seorang tentara yang melakukan kesalahan pada saat latihan, paling keras risikonya dimarahi oleh komandan. Tapi di medan pertempuran, risikonya nyawa melayang. Seorang kiper yang kebobolan gawangnya pada masa latihan, risikonya diminta latihan lebih baik oleh pelatihnya. Tapi di pertandingan sesungguhnya, risikonya adalah kekalahan tim. Analogi bulan Ramadhan: batal puasa di bulan Ramadhan, ada risiko (qada, fidiyah, atau puasa 2 bulan/memberi makan orang miskin). batal puasa sunnah di bulan lain, tidak ada risikonya
- Keberhasilan pada saat latihan hanya sedikit mendapat penghargaan (maksimal berupa pujian). Keberhasilan pada saat pertempuran/pertandingan bisa mendapat penghargaan yang melimpah: hadiah uang, kenaikan pangkat, bisa juga disebut sebagai pahlawan. Analogi bulan Ramadhan: pahala ibadah sunnah pada bulan Ramadhan setara dengan pahala ibadah wajib di bulan lain. Pahala ibadah wajib di bulan Ramadhan nilainya 70 kali pahala ibadah wajib di bulan lain.
Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa bulan lain di luar Ramadhan adalah bulan latihan. Biasakanlah shalat malam di bulan lain, agar pada saat bulan Ramadhan kita tidak merasa berat melakukan shalat malam yang pahalanya dilipatgandakan. Biasakanlah puasa sunnah di bulan lain, agar pada saat bulan Ramadhan kita merasa ringan melakukan puasa wajib yang pahalanya dijanjikan langsung oleh Allah SWT. Biasakanlah membaca Alquran di bulan lain, sehingga pada saat bulan Ramadhan kita bisa lebih serius mengkaji makna isi Alquran.
Begitulah akal saya berkata. Tapi, sekali lagi, jika ada nash yang menyatakan bahwa Ramadhan itu bulan latihan (baik eksplisit maupun implisit), saya cabut wacana ini, dan saya sami’na wa ato’na.
Komentar Terakhir