27
Sep
07

Ketupat dan Kartu Lebaran

Saya sering menikmati ketupat karena benda yang satu ini sering tampil bersama ketoprak dan gado-gado: salah satu menu kegemaran saya. Tetapi, untuk urusan membuat ketupat, seingat saya, keluarga kami hanya sekali dalam setahun membuat ketupat. Momennya adalah hari lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Anda juga? Kemungkinan besar, ya. Itulah sebabnya ketupat bisa menjadi simbol makanan perayaan Hari Idul Fitri.

Bukan itu saja, ketupat juga sering menjadi simbol yang tampil di kartu lebaran. Nah, sampai di sini saya kurang sreg. Kenapa sih, perayaan Idul Fitri dilambangkan dengan makanan? Kok sepertinya umat muslim Indonesia ini setelah berpuasa selama sebulan penuh di Bulan Ramadhan, kembalinya ke makan-makan juga. Padahal kan, kata ustadz-ustadz, seharusnya kita kembali ke fitrah: seperti bayi yang baru lahir.

Lebih elok kalau kartu lebaran itu dilambangkan dengan, misalnya, mesjid, kaligrafi, atau dekorasi sajadah. Paling tidak itu melambangkan umat muslim yang kembali ke “ruang-ruang” ibadah karena ketakwaannya telah dipompa di Bulan Ramadhan.

Syukurlah, desainer grafis di tempat saya bekerja telah membuat kartu lebaran untuk perusahaan dengan gambar mesjid sehingga saya tidak perlu memintanya untuk mengganti, jika gambarnya berupa ketupat.

About these ads

6 Responses to “Ketupat dan Kartu Lebaran”


  1. 3-Oktober-2007 pukul 3:03 pm

    Namanya juga tradisi men, kan beda2 asal ga nyimpang n yg paling penting bs puasa sebulan penuh. Kalo tinggalnya di prancis ya ga ada ketupat.

  2. 3 usta
    10-Oktober-2007 pukul 10:11 am

    Mungkin dr “tradisi” di jawa yang suka bermain dgn kata2 n mengungkapkan sesuatu gak scara langsung tp pake simbol2. Seperti juga Guru = digugu & ditiru, Kerikil = Keri neng Sikil, Ketupat dlm bhs jawa = Kupat, Kupat = Kulo Lepat ( Saya Salah ). Jd orang menyuguhkan Ketupat ke orang lain/tamu bermaksud menggungkapkan bila si tuan rumah mengaku salah trus minta maaf. Di Jawa kebanyakan simbol jd bikin binggung. Terakhir ucapan klise : “Met Lebaran maaf lahir bathin….”

  3. 10-Oktober-2007 pukul 1:05 pm

    Met Lebaran juga, Mohon Maaf Lahir dan bathin…. Pada kemana nih pulang kampungnyaa…. :)

  4. 5 kurnia
    10-Oktober-2007 pukul 1:41 pm

    @ usta
    saya baru tahu loh… mohon maaf lahir batih juga untuk semua

  5. 12-Oktober-2007 pukul 3:54 am

    itulah budaya yang selalu menjadi tradisi, eh kebalik ngga ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: