Saat ini, perhatikanlah penggunaan Bahasa Indonesia yang semakin longgar. Berikut contoh beberapa “keanehan” yang sering saya temui.
Bagaiamana Anda membaca 2,3? Apakah “Dua koma tiga” atau “Dua poin tiga”? Jelaslah dalam Bahasa Indonesia itu dibaca “dua koma tiga”. Tapi banyak di antara kita membacanya “dua poin tiga”. Kalau mau pakai bahasa Inggris, ya sebut saja “two point three”.
Bagaimana Anda Membaca “George W Bush”? Di beberapa stasiun radio dan tv di jakarta huruf “W” itu dibaca “double yu” padahal jelas-jelas radio atau tv itu sedang menyampaikan berita dalam Bahasa Indonesia. Sebaliknya, dengarkan radio Australia atau BBC. Ketika sedang menyampaikan berita dalam Bahasa Indonesia, radio Australia atau BBC menyebut huruf “W” itu dengan “we”. Begitu juga dengan kata “Cina” Sebagian radio di jakarta menyebutnya dengan “Cayna”, padahal berita itu dibacakan dalam Bahasa Indonesia.
Di sebuah radio berita di jakarta, penyiarnya ketika sedang bertanya kepada nara sumber mengenai, misalnya, kondisi korban kecelakan, akan bertanya “Seperti apa pak keadaan korban?” Aneh ya, pakai kata “Seperti apa”. Padahal sudah ada kata “Bagaimana”. Lebih enak kedengarannya kalau ditanya “Bagaimana pak keadaan korban?”.
Terakhir. Dalam laporan hasil pertandingan sepakbola. Misalnya pertandingan antar Arsenal melawan Chelsea, dan Arsenal menciptakan gol di menit ke-15. Kalau Arsenal menciptakan gol lagi, misalnya, pada menit ke 25, penyampai berita mengatakan “Arsenal menggandakan golnya pada menit ke 25″. Menggandakan? Menggandakan itu seharusnya digunakan untuk perbanyakan sesuatu yang identik, dan biasanya mengikuti perkalian bukan penambahan (misalkan, fotokopi). Kalau gol? Seharusnya sih bukan menggandakan tapi menambah.
Anda punya contoh yang lain?
pemakaian kata “secara” pak. sangat fenominul! smua kalimat dianggap cocok memakai awalan secara. “secara hari ini gw ga puasa, jadinya gw bawa makanan aja deh. secara gw cuek aja ya gw makan di depan orang.” gitu pak.. ada solusi?
saya gak tau kapan dimulai dan siapa yang memulai kata “secara” digunakan untuk kalimat-kalimat seperti itu. Kalau yang saya tahu sih, kata “secara” itu punya arti “dengan cara”. Nah, kalau komunitas tertentu mulai memomulerkan penggunaan kata “secara” untuk menggantikan “karena” atau “berhubung”, yah gak apa-apa. Bahasa kan kesepakatan. Kalau makin banyak yang sepakat, penggunaan itu bisa dinyatakan baik dan benar. Seperti kata “cewek”. Seingat saya, pada tahun 70′an, kata “cewek” merupakan salah satu kata bahasa tak resmi (bahasa preman, slank, atau apalah) yang berarti seorang gadis. Tapi nyatanya sekarang sudah masuk secara resmi ke dalam kamus. Jadi, gak perlu ada solusi. Biar saja berjalan.
Pak…tulisan bapak ok juga…cocok buat refrensi saya sebagai praktisi radio.
Emang sih nggak mudah,mengajarikawan-kawan penyiar ini..yang maunya pakek bahasa gaul..tapi setelah dihayati kok rasanya banyak kosa katayang nggak pas.
Saya hanyamengomentari kata CHINA yang kmdian dilafalkan dengan CHAYNA.
Hal ini semata-mata krn saat didengar ditelinga kata China terdengar dan disikapu oleh beberapa orang sebagai Diksi yang cenderung memberikan arti Rasialis.
Harus kita hargai dong kl alasannya karena ini. ya nggak ?
Krn saya pernah jadi MC di sebuah launching produk RRC diminta oloeh yang empunya gawe untuk melafalkan seperti itu.
Kiranya kadang kita memang harus kompromi saat melafalkan sebuah kata…..(condoh lain dlm bahasa jawa ; kunduran mobil, bulu anjungnya diwut-diwut, Katrox dll)
HHHHHHHHHHHHHHHHHHHHhhh…..makasih wacananya Boss