14
Des

Idul Adha 1428H: Ikut Arab Saudi?

Pemerintah Indonesia memutuskan bahwa Idul Adha 1428 H jatuh pada tanggal 20 Desember 2007. Begitu juga ormas-ormas Islam. Itu artinya, 1 Dzulhijah 1428 H bertepatan dengan tanggal 11 Desember 2007. Kalau kita lihat lagi perhitungan dengan MoonC, pada tanggal 9 Desember 2007, di Jakarta, bulan masih terbenam lebih dulu dibandingkan dengan matahari. Selisihnya sekitar 18 menit 15 detik. Dengan demikian bulan Dzulqaidah dibulatkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Dzulhijah 1428 H jatuh pada tanggal 11 Desember 2007.

Bagaimana dengan kondisi di Mekkah? Lagi-lagi, berdasarkan perhitungan MoonC, pada tanggal 9 Desember 2007, di Mekkah, bulan juga terbenam lebih dulu dibandingkan matahari dengan selisih 22 menit 36 detik. Artinya, 1 Dzulhijah 1428 H sama dengan Jakarta, jatuh pada tanggal 11 Desember 2007 dan 10 Dzulhijah 1428 H jatuh pada 20 Desember 2007. Namun demikian, ternyata, Pemerintah Arab Saudi, memenetapkan bahwa 10 Dzulhijah 1428 H jatuh pada 19 Desember 2007.

Bagaimana kita menyikapi perbedaan ini? Karena ini pernah terjadi pada beberapa tahu yang lalu, saya telah membuat postingan untuk hal ini pada Hari lebaran berbeda lagi?

14
Nov

1 mil = … km?

“Untuk kembali ke kampungnya, ia harus berjalan kaki sejauh 40 mil. Betapa melelahkannya perjalanan itu”. Begitu seorang penerjemah buku fiksi yang menerjemahkan buku tersebut dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Tidak ada masalah dengan terjemahannya. Tapi, “rasa” yang ingin disampaikan oleh penulisnya kurang sampai kepada pembaca dalam Bahasa Indonesia. Mengapa?

Ketika penulis tersebut menulis 40 mil dalam buku Bahasa Inggrisnya, pembaca dalam Bahasa Inggris bisa membayangkan bagaimana letihnya berjalan kaki sejauh itu. Tapi, pembaca dalam Bahasa Indonesia akan sulit membayangkan, karena mereka tidak terbiasa dengan satuan mil. Mereka tidak bisa membayangkan berapa jauh sih 40 mil itu. Terpaksalah pembaca itu melihat catatan buku fisika untuk mengetahui berapa kilometer setara dengan 1 mil. Ketika diketahui bahwa 1 mil adalah 1,6 km, barulah bisa dibayangkan bagaimana letihnya perjalanan sekitar 64 km. Pembaca yang ada di Jakarta bisa membayangkan, bagaimana letihnya berjalan kaki dari Jakarta sampai Bogor, atau bahkan lebih jauh dari itu.

Mungkin lebih baik terjemahan itu mejadi “”Untuk kembali ke kampungnya, ia harus berjalan kaki sejauh 64 km. Betapa melelahkannya perjalanan itu”.

Hal seperti itu sering ditemukan bukan hanya di buku terjemahan, tetapi juga sering kita lihat di teks terjemahan di film-film, dan terjemahan dalam bentuk dubbing. Agar kerja Anda sebagai penerjemah bisa lebih dinikmati, sepertinya hal sepele ini perlu diperhatikan. Selamat menerjemahkan.

08
Okt

Ramadhan bulan latihan?

Saya menulis artikel ini pada malam tanggal 26 Ramadhan 1428H. Sudah 25 hari umat muslim berpuasa. Anda yang rajin bertarawih di masjid, ingatkah ada berapa penceramah yang menjelaskan bahwa Ramadhan itu bulan latihan? Latihan sabar, latihan menahan hawa nafsu, latihan menahan lapar dan haus, latihan meningkatkan intensitas ibadah. Kalaupun tidak banyak, sepertinya ada beberapa penceramah yang menyatakan hal tersebut. Benarkah Ramadhan itu bulan latihan?

Saya tanya kepada beberapa teman saya, apakah ada hadis atau ayat alquran yang secara eksplisit atau implisit menyatakan bulan Ramadhan itu bulan latihan. Teman saya tidak ada yang tahu ada nash yang menyatakan hal tersebut. Karena teman saya bukan ulama (bahkan level ustadz pun tidak), saya jadi belum yakin benar. Nah, kalau Anda tahu ada nash nya, sampaikan segera ke saya dan Anda tidak usah meneruskan membaca artikel ini.

Kalau memang tidak ada hadis atau ayat Quran yang menyatakan bahwa Ramadhan bulan latihan, itu artinya saya boleh berbeda pendapat. Dan menurut saya, bulan latihan adalah kesebelas bulan lain selain Ramadhan. Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan “pertempuran/pertandingan”. Alasannya?

Saya harus menganalogikan “latihan” dan “pertempuran/pertandingan” seperti seorang tentara atau olahragawan.

  1. Bagi seorang tentara atau olahragawan, mana yang paling panjang waktunya apakah latihan atau pertempuran/pertandingan? Umumnya lebih lama latihan. Latihan bisa berbulan-bulan tetapi pertandingan atau turnamen berlangsung hanya sebulan. Analogi bulan Ramadhan: Ramadhan hanya 1 bulan, sisanya ada 11 bulan.
  2. Mana yang mempunyai risiko lebih besar, apakah melakukan kesalahan pada masa latihan atau pada masa pertempuran/pertandingan. Pasti risiko lebih besar pada masa pertempuran/pertandingan. Seorang tentara yang melakukan kesalahan pada saat latihan, paling keras risikonya dimarahi oleh komandan. Tapi di medan pertempuran, risikonya nyawa melayang. Seorang kiper yang kebobolan gawangnya pada masa latihan, risikonya diminta latihan lebih baik oleh pelatihnya. Tapi di pertandingan sesungguhnya, risikonya adalah kekalahan tim. Analogi bulan Ramadhan: batal puasa di bulan Ramadhan, ada risiko (qada, fidiyah, atau puasa 2 bulan/memberi makan orang miskin). batal puasa sunnah di bulan lain, tidak ada risikonya
  3. Keberhasilan pada saat latihan hanya sedikit mendapat penghargaan (maksimal berupa pujian). Keberhasilan pada saat pertempuran/pertandingan bisa mendapat penghargaan yang melimpah: hadiah uang, kenaikan pangkat, bisa juga disebut sebagai pahlawan. Analogi bulan Ramadhan: pahala ibadah sunnah pada bulan Ramadhan setara dengan pahala ibadah wajib di bulan lain. Pahala ibadah wajib di bulan Ramadhan nilainya 70 kali pahala ibadah wajib di bulan lain.

Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa bulan lain di luar Ramadhan adalah bulan latihan. Biasakanlah shalat malam di bulan lain, agar pada saat bulan Ramadhan kita tidak merasa berat melakukan shalat malam yang pahalanya dilipatgandakan. Biasakanlah puasa sunnah di bulan lain, agar pada saat bulan Ramadhan kita merasa ringan melakukan puasa wajib yang pahalanya dijanjikan langsung oleh Allah SWT. Biasakanlah membaca Alquran di bulan lain, sehingga pada saat bulan Ramadhan kita bisa lebih serius mengkaji makna isi Alquran.

Begitulah akal saya berkata. Tapi, sekali lagi, jika ada nash yang menyatakan bahwa Ramadhan itu bulan latihan (baik eksplisit maupun implisit), saya cabut wacana ini, dan saya sami’na wa ato’na.

30
Sep

Warisan dan persamaan matematika

Konsultan pajak? saya sudah lama dengar keberadaannya. Konsultan pajak keuangan? Akhir-akhir ini semakin banyak dicari orang. Konsultan waris? Sepertinya masih berupa profesi yang langka, kalau tidak mau dibilang belum ada. Anda berminat?

Kalau berminat, anda harus menguasai dulu pemahaman atas Q.S.4:11-12. Ditambah pengetahuan tentang persamaan matematika. Ini buktinya.

Kasus yang paling sederhana dalam pembagian waris adalah warisan yang hanya dibagikan kepada anak. Rumus yang diperintahkan Allah dalam ayat itu adalah anak laki-laki mendapat 2 kali dari anak perempuan. Dengan bahasa matematika perbandingan laki-laki (x) dan perempuan (y) adalah

x:y = 2:1

atau

x=2y (1)

Contoh nyatanya pernah terjadi pada keluarga saya. Ibu saya adalah 3 bersaudara yang terdiri dari 1 anak laki dan 2 anak perempuan. Bagaimana persentase pembagian warisan dari kakek saya?

Kalau seluruh hartanya 100%, maka

1 anak laki + 2 anak perempuan=100%

Atau

x + 2y = 100%

x = 100%-2y (2)

Untuk mengetahui berapa % masing-masing anak mendapatkan warisan, kita harus selesaikan 2 persamaan di atas

x= 2y (1)

x=100%-2y (2)

2y=100%-2y

4y=100%

y=25%

x=2 x 25%= 50%

Dengan demikian anak laki-laki mendapat 50% dan anak perempuan masing-masing mendapat 25%. Kalau harta yang ditinggalkan bernilai Rp10juta, ibu saya mendapat warisan sebesar Rp2,5juta.

Cobalah anda hitung jika ada 3 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Kalau berhasil, anda jangan langsung pasang iklan sebagai konsultan warisan karena perhitungan lebih rumit harus anda uji lagi, seperti misalnya yang mendapat waris bukan hanya anak tapi ada pula orang tua dari yang meninggal.

29
Sep

Hari Besar (Libur) Islam

Di Indonesia, kita mempunyai banyak libur nasional.  Cuma 1 hari yang berkaitan dengan nasionalisme yaitu 17 Agustus.  Sebagian besar yang lain berhubungan dengan tema agama.  Libur yang katanya Hari Besar Islam ada berapa ya?  Idul Fitri (2 hari), Idul Adha, Isra Miraj, 1 Muharam, dan Maulid Nabi.  Perlu gak sih libur untuk hari-hari itu?

Pada Idul Fitri dan Idul Adha ada ibadah yang perlu dilakukan yaitu shalat ied.  Khusus Idul Adha bahkan ada tambahan lagi yaitu pemotongan hewan kurban.  Jadi, kedua hari perayaan ini memang perlu diliburkan.

Kalau Isra Miraj, 1 Muharam, dan Maulid Nabi?  Tidak ada syariat tertentu yang menyatakan pada ketiga hari itu ada ibadah khusus.  Jadi buat apa diliburkan?

Tapi, ada pula usulan, agar Indonesia terlihat islami, libur jangan di hari minggu, tapi di hari Jumat, karena Jumat merupakan salah satu dari hari raya Islam seperti hadist Nabi:

Diriwayatkan pula dai Amir al-Asy’ari, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya hari Jumat itu merupakan hari rayamu, karena itu janganlah kamu berpuasa pada hari itu, kecuali jika kamu berpuasa sebelum atau sesudahnya!” (HR al-Bazar dengan sanad yang hasan)

Pengusul ini lupa, bahwa di dalam Q.S 62:10, Allah memerintahkan bahwa setelah shalat Jumat kita harus bekerja kembali.  Tersirat di situ, hari Jumat tidak harus libur.

Lalu, kapan kita perlu libur?

Saya pernah mendengar pandangan seorang ustadz, yang mengusulkan libur atau cuti tahunan selama 10 hari diambil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.  Seperti kita tahu, 10 hari tersebut muslimin disunahkan untuk itikaf, yaitu kegiatan tinggal di dalam mesjid (tidak pulang ke rumah) untuk melakukan berbagai ibadah di tempat tersebut.  Kalau tidak libur atau cuti, mana mungkin kita bisa melakukannya.

Poin lain yang ingin saya sampaikan di sini adalah masyarakat Indonesia perlu menata ulang hari liburnya.  Saat ini terlalu banyak libur di Indonesia.  Tadi saya baru menyebutkan hari libur dari Islam yang menurut saya tidak perlu libur.  Belum lagi dari agama lain, yang mungkin kalau dikaji lagi belum tentu ajaran agama tersebut memerlukan libur pada hari-hari itu.  Kita masih perlu kerja keras untuk mengejar ketertinggalan.  Masih perlu banyak waktu untuk mengejar.  Mengapa libur kok banyak sekali?

28
Sep

Pilih lebaran tanggal berapa (Idul Fitri 1428 H)?

Postingan yang lalu mengenai lebaran yang berbeda rupanya mendapat kunjungan tertinggi hingga hari ini (28 Sept 2007) di blog saya.  Ada indikasi bahwa banyak yang mencari informasi mengenai hari idul fitri yang (diprediksi) berbeda ini.  Menurut saya, seperti diimbau oleh banyak kalangan, jangan lah perbedaan ini dibesar-besarkan hingga terjadi perpecahan.  Silakan kita memilih sesuai dengan keyakinan kita dan ilmu kita.  Nah, yang terakhir ini (ilmu) penting. Jangan sampai kita memilih secara membabi buta tanpa tahu mengapa kita memilih. Lanjutkan membaca ‘Pilih lebaran tanggal berapa (Idul Fitri 1428 H)?’

27
Sep

Ketupat dan Kartu Lebaran

Saya sering menikmati ketupat karena benda yang satu ini sering tampil bersama ketoprak dan gado-gado: salah satu menu kegemaran saya. Tetapi, untuk urusan membuat ketupat, seingat saya, keluarga kami hanya sekali dalam setahun membuat ketupat. Momennya adalah hari lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Anda juga? Kemungkinan besar, ya. Itulah sebabnya ketupat bisa menjadi simbol makanan perayaan Hari Idul Fitri.

Bukan itu saja, ketupat juga sering menjadi simbol yang tampil di kartu lebaran. Nah, sampai di sini saya kurang sreg. Kenapa sih, perayaan Idul Fitri dilambangkan dengan makanan? Kok sepertinya umat muslim Indonesia ini setelah berpuasa selama sebulan penuh di Bulan Ramadhan, kembalinya ke makan-makan juga. Padahal kan, kata ustadz-ustadz, seharusnya kita kembali ke fitrah: seperti bayi yang baru lahir.

Lebih elok kalau kartu lebaran itu dilambangkan dengan, misalnya, mesjid, kaligrafi, atau dekorasi sajadah. Paling tidak itu melambangkan umat muslim yang kembali ke “ruang-ruang” ibadah karena ketakwaannya telah dipompa di Bulan Ramadhan.

Syukurlah, desainer grafis di tempat saya bekerja telah membuat kartu lebaran untuk perusahaan dengan gambar mesjid sehingga saya tidak perlu memintanya untuk mengganti, jika gambarnya berupa ketupat.

27
Sep

Nothing is impossible

Apa sih terjemahan nothing is impossible ke dalam Bahasa Indonesia?  Kawan saya sih bilang, “terjemahan bebasnya adalah ‘tidak ada yang tidak mungkin’.”  Betul ya?  Kita anggap saja betul.

Betul terjemahannya.  Kalau maknanya? Mungkin betul untuk kita manusia secara umum agar motivasi kita tetap dalam posisi puncak dalam menghadapi setiap tantangan hidup.  Tapi untuk seorang matematikawan?  Sepertinya sih salah ya.

Di dalam matematika ada sesuatu yang tidak mungkin terjadi.  Dalam teori peluang, kejadian ini dinamakan mempunyai peluang sebesar 0 (nol) atau p(A) = 0.  Contoh gampangnya adalah kalau kita buat dadu (kubus bersisi 6) dan setiap sisinya kita beri angka 1 s.d 6.  Kalau kita lempar dadu tersebut, peluang keluar angka 5 adalah 1/6 (seperenam) atau dilambangkan dengan p(5) = 1/6.  Anda menginginkan keluar angka 8? Ini tidak mungkin terjadi.  Sebesar apapun semangat anda dan sehebat apapun kesabaran Anda dalam menunggu keluarnya angka 8, tidak akan keluar angka 8.  Dalam bahasa matematika, peluang keluarnya angka 8 adalah nol atau p( 8) = 0.  Jadi, tetap saja ada yang tidak mungkin terjadi.

26
Sep

Telinga Belalang

Humor ini pernah saya baca di sebuah surat kabar Jakarta lebih dari 20 tahun yang lalu. 

Seorang ahli biologi sedang meneliti apakah belalang mempunyai telinga.  Pertama-tama ia berteriak, “loncat!!!”, maka belalang itu meloncat.  Kemudian, dia ambil lagi belalang itu dan dipatahkannya kedua kaki belakang belalang itu.  Lalu, ia berteriak lagi, “loncat!!”.  Belalang itu diam tidak meloncat.  Kesimpulan: telinga belalang ada di kaki belakangnya.

25
Sep

cuaca bersahabat

“Bagaimana cuaca di tempat Anda? Di sekitar studio tampak cuaca cerah, bersahabat”, kata penyiar radio yang saya dengar di mobil yang saya kendarai.  Lagi-lagi ngomongin penyiar radio.  Lagi-lagi ngomongin ikut-ikutan budaya asing (Eropa/Amerika).

Kalau di negeri beriklim dingin, munculnya matahari memang disyukuri karena masyarakat setempat merasa lebih hangat.  Tapi, wong ini di Jakarta, cuaca panas begini kok dibilang bersahabat.  Sedang berpuasa pula.  Banyak penduduk Jakarta sudah kehabisan air karena datangnya kemarau, tentu saja hadirnya air dari langit merupakan hal yang perlu disyukuri.  Bolehlah dibilang bersahabat jika cuaca mendung (biar agak adem), atau hujan yang tidak menyebabkan banjir (untuk mengisi persediaan air tanah).